Kamis, November 27, 2008
Fee Jasa konsultasi Arsitek Lansekap


J

asa konsultasi dalam bidang arsitektur lansekap merupakan Layanan keahlian/professional yang hasil keluarannya berbentuk rekomendasi, nasehat, hasil survey,disain ataupun dukungan manajerial seperti pengawasan dll.
Dan tentunya jasa ini tidak lepas dari BERAPA ? dan BAGAIMANA? cara tarif yang akan dikenakan jika menggunakan pelayanan jasa konsultasi seorang arsitek lansekap

Ada 4 (empat ) metoda perhitungan tarif pelayanan (fee design) yang sering digunakan dalam ruang lingkup jasa pelayanan konsultasi arsitek lansekap

1.Tarif Berdasarkan Persentase ( Percentage fee)
2.Tarif Berdasarkan waktu ( Time charge)
3.Tarif tetap/Borongan ( Lumpsum Fee)
4.Tarif Upah. (Retainer )




Percentage Fee
Adalah cara pengaturan biaya/nilai tarif dengan menetapkan nilai besaran fee persentase dikalikan dengan jumlah total biaya pelaksanaan pekerjaan konstruksi lansekap.
Di Indonesia pada umumnya jasa seorang arsitek lansekap berkisar dari 7.5% hingga 10% dari Jumlah Rencana Anggaran Biaya (RAB) besar atau kecilnya nilai fee persentase biasanya ditentukan oleh total biaya pelaksanaan konstruksi pekerjaan lansekap serta tingkat kesulitan daripada proyek lansekap.

Contoh: Jika sebuah Pekerjaan arsitektur lansekap mencapai nilai proyek sebesar Rp 50 Juta maka nilai jasanya adalah 10% X Rp 500.000.000 = Rp 50.000.000 Jika pekerjaan arsitek lansekap mencapai nilai proyek Rp 1 Milyar maka nilai jasanya adalah 7.5% X Rp 1M = Rp 75.000.000.

Beberapa studi banding dengan nilai fee arsitek lansekap di beberapa negara tentangga. Institute Arkitek Landskap Malaysia (ILAM) dalam buku pedomannya menetapkan besaran fee persentase jasa pelayanan berkisar 8% - 14%,
Australian Institute of Landscape Architects (AILA) menerapkan nilai berkisar dari 6% - 18%. Sedangkan
Singapore Institute Of Landscape Architects (SILA) menerapkan besaran nilai 10 % dari semua pengeluaran yang terkait dengan proyek seperti Biaya transportasi ,biaya perjalanan,biaya akomodasi maupun konsumsi,printing dan reproduksi hasil disain,pengiriman ,alat dll.

Keuntungan dan kerugian menghitung besaran tarif berdasarkan metoda ini adalah nilai besaran fee akan tergantung dan terpengaruh dari nilai biaya pelaksanaan,besarnya biaya pelaksanaan akan mengangkat nilai harga jasa pelayanan demikian pula sebaliknya.

Time Charge
Metoda ini adalah cara pengaturan besaran tarif jasa pelayanan dengan menentukan lamanya waktu pekerjaan dikalikan dengan harga satuan tarif/jam seorang arsitek lansekap.
Metoda inipun akan digunakan jika jenis proyek belum diketahui besaran nilai konstruksinya ataupun jenis pekerjaan yang tidak atau belum tentu berakhir dengan pelaksanaan konstruksi ( hanya bersifat rekomendasi maupun nasehat ahli)

Besar-kecilnya tarif/jam ini ditentukan oleh PENGALAMAN atau ‘ jam terbang’ keahlian seorang arsitek lansekap,semakin berpengalaman dalam menangani proyek maka makin tingginya nilai tarif si arsitek tersebut.Penentuan tarif/jam juga kadang telah ditentukan oleh organisasi profesi terkait atau nilai yang telah ditetapkan sendiri oleh individu arsitek lansekap tersebut berdasarkan pengalaman ber-praktisi

Lumpsum Fee
Tarif lumpsum (Fixed Fee) biasa di gunakan oleh karena kesepakatan oleh kedua belah pihak antara pemberi kerja dan penerima kerja,parameter besaran tarif lumpsum yang digunakan ditentukan oleh waktu, luasan proyek dan biaya serta tingkat kesulitan proyek

Keuntungan dari metoda ini adalah di sepakati tarif tetap (fixed fee) sehingga tidak terpengaruh oleh besaran dari nilai biaya pelaksanaan.
Kerugian dari metoda ini adalah jika lamanya waktu pekerjaan meleset dari jadwal yang telah ditetapkan ataupun kendala-kendala teknik yang terjadi dilapangan sehingga membuat waktu pelaksanaan menjadi mundur akan berakibat kerugian waktu bagi pihak konsutan arsitek lansekap.

Retainer fee
Adalah cara pengaturan tarif yang berdasarkan kesepakatan antara klien dan pihak arsitek lansekap jika klien hanya membutuhkan jasa pelayanan seorang arsitek lansekap pada sebuah bagian pekerjaan proyek dalam jangka waktu tertentu.Tetapi bukan tidak mungkin kesepakatan ini akan berlangsung selama hitungan bulan,semester atau tahunan.

Metoda ini paling sering digunakan oleh perusahaan konsultan dan kontraktor lansekap di Indonesia jika mendapatkan proyek yang membutuhkan keahlian khusus daripada jasa pelayanan seorang arsitek lansekap dalam jangka waktu tertentu.

Ke 4 (empat) metoda cara penetapan tariff layanan seorang arsitek lansekap selalu dilakukan dengan menambahkan biaya pengeluaran bagi kebutuhan arsitek lansekap dalam proyek tersebut seperti biaya tranportasi lokal,biaya konsumsi dan biaya alat dan percetakan hasil dll.

Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 11.36 | Permalink | 0 comments
Selasa, November 18, 2008
TANGGA Di dalam kaidah Ars.Lansekap


H
ampir disetiap pelosok daerah di Indonesia, Rumah tradisional memiliki tangga untuk sebagai pencapaian ke dalam bagian rumah dan bahkan beberapa rumah modern pun masih memiliki tangga di depan teras rumahnya.

Pada awalnya struktur tangga rumah-rumah tradisional di bentuk dari material kayu yang di ikat dengan rotan maupun akar-akar tanaman dan kaidah ini mampu menghasilkan tangga yang kokoh.
Asal muasal kata “TANGGA” terdiri dari dua kata yaitu “TANGAN” dan “GENGGAM” seperti tangan orang yang bersalaman,gabungan perkataan tangan dan genggam ini yang membentuk perkataan TANGGA ( Muliyadi Mahoomad’1993)
Kemajuan teknologi banyak berpengaruh dan menggubah kaedah konstruksi tangga termasuk bahan dan reka bentuknya,kalau dulu tangga dibuat dari material kayu maka kini tangga di bentuk dengan menggunakan semen,batu alam,besi dan material lainnya.

Tangga mempunyai pengertian yang sangat luas dalam kebudayaan bangsa Indonesia,secara simbolik ‘tangga’ sering berkaitan dengan makna dan arti lain seperti ‘Rumah Tangga’ yang merujuk pada status pernikahan,hal ini menunjukan makna dan arti tangga yang berhubungan yang berhubungan erat dengan konsep kekeluargaan dan hidup bermasyarakat.

Didalam beberapa.......



Didalam beberapa kalimat,kata ‘Tangga’ sering di sisipkan sebagai subjek pelengkap seperti; ’Tetangga’ yang berarti menunjukan kehidupan keluarga yang bertempat tingal dekat atau masih di satu wilayah,’Anggaran Rumah Tangga (ART)’ yang berisikan peraturan dan rumusan perilaku dalam kehidupan berorganisasi.

Dalam konteks lain ‘Tangga’ sering dihubungkan dengan pernyataan yang merujuk kepada peningkatan dan prestasi ,mis;”Tangga Kejayaan”malah ada jenis permainan seperti “Ular Tangga”pun di sisipkan kata ‘Tangga’ walaupun permainan ini tidak memakai tangga sebagai alatnya.

Ternyata tangga mempunyai pengertian yang mendalam dan wujud luas pengertian arti dan makna.

Dalam bidang Arsitektur , ‘Tangga’ merupakan tempat naik turun dari satu bidang lantai menuju level bidang lantai yang berbeda ketinggiannya.

Dan dalam Bidang Arsitektur Lansekap, Tangga juga merupakan Area Transisi serta penghubung antara dunia luar dengan ruangan didalam rumah yang merupakan Area transisi dari satu fungsi ruang ke-bentukan ruang lain yang memiliki sifat dan fungsi berbeda.

Sehingga dalam peletakannya tangga memiliki beberapa aspek yang perlu menjadi pertimbangan seperti Lokasi,Arah Tangga ,Bentukan Tangga dan Jumlah Anak Tangga
Dan tangga memiliki elemen pelengkap seperti; Tinggi ,Lebar dan Kedalaman,Borders dan Pagar Pengaman (Railing).

Kesesuaian reka bentuk, ketinggian ,berbagai elemen material dan warna menambah lagi nilai seni dan dekoratif bagi disain bentukan tangga ,keindahan bentuk reka tangga tergantung kepada ide kreatifitas dan ’ sense of art’ daripada seorang perancang sehingga peletakan tangga di depan rumah maupun tempat lainnya akan dapat selalu menjadi satu bagian yang menarik dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Nilai-nilai estetika dan keunikan tangga bukan hanya terletak pada bentuknya ,tetapi terkandung juga arti serta makna-nya.

Maka, Pandai-pandailah men-disain tangga sehingga pepatah “Sudah Jatuh Ketimpa Tanggga’ tidak menjadi batu sandungan bagi kita.



Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 19.36 | Permalink | 2 comments
Rabu, November 12, 2008
MISTERI 9 JURUS PAMUNGKAS

CIIIAAATTTTTT…..WESSS…..WUUUT….BUGHH…!!!!!!

Bunyi suara gerakan silat sering membuat kita menjadi tegang dengan isi cerita dalam dunia komik persilatan, apalagi jika jawara silat sedang siap-siap mengeluarkan jurus andalan pamungkasnya. kitapun akan penasaran menunggu akibat yang ditimbulkan oleh jurus pamungkas tersebut.

Didunia persilatan ”Arsitektur Lansekap’ juga terdapat jurus-jurus pamungkas yang dimiliki oleh masing-masing seorang jawara arsitek lansekap.segala macam jurus andalan di pergunakan dan sering jurus tersebut malah lebih ampuh pada saat-saat terdesak oleh ’deadline’ batas waktu presentasi proyek ke hadapan owner.

Jurus-jurus pamungkas tidak lepas dari Ketrampilan ( Skill), 
Pengetahuan ( Knowledge) dan Kemampuan (Abilities) diri pribadi seorang jawara arsitek lansekap.

di bawah ini ada tersimpan 9 jurus pamungkas yang mutlak dimiliki oleh setiap pendekar arsitek lansekap , yaitu:.....

Jurus per-1. DESIGN
Seorang arsitek lansekap wajib di bekali dengan pengetahuan mengenai teknik, alat dan prinsip perencanaan maupun perancangan lansekap termasuk cara menyajikan out-put olahan hasil disain didalam bentuk presentasi graphis .

Jurus 2. MATHEMATHICS
Pengetahuan tentang aritmatika,aljabar,geometri,kalkulus dan statistik merupakan jurus pemikat yang mutlak dimiliki

Jurus 3. ENGINEERING and TECHNOLOGY
Kemampuan dan pengetahuan praktis mengenai aplikasi dari rekayasa keilmuan dan teknologi berguna pada saat menangkal serangan problem yang terdapat di lahan

Jurus 4. ADMINISTRATION and MANAGEMENT
Pengetahuan tentang seluk beluk sebuah alur gerakan administrasi dimulai dari membuat Proposal penawaran hingga ke surat kontrak kerja serta perlu juga mempunyai ajian manajemen kepemimpinan ‘transleadership’ dalam manajemen pelaksanaan proyek.

Jurus 5.ECOLOGY and BIOLOGY
Segala sesuatu ada sumber intinya ,pengetahuan tentang potensi kekuatan alam yang ada disemesta alam mutlak di kuasai sehingga piawai dalam memadukan unsur kehidupan yang harmonis.

Jurus 6. VIZUALIZATION
Kepekaan panca indera merupakan dasar dari peri-laku memahami dan meng-apresiasi ruang yang terbentuk,melatih kepekaan terhadap macam bentukan lansekap di sekitar akan menambah kecepatan dalam me-apresiasi kesan satu bentukan ruang bentang alam.
Keabstrakan ideal suatu visual akan menambah beraneka ragam bentuk maupun hubungan antar ruang yang tercipta.

Jurus 7. CRITICAL THINGKING
Kritis dalam menganalisa suatu tapak atau kondisi lahan ,kritis dalam menyikapi kendala,potensi dan tantangan dunia global akan dapat menempatkan diri pada posisi dunia arsitek lansekap di era yang baru.
Selalu mengatas-namakan simbol ??????? akan lebih baik daripada simbol !!!!!!
Itu tandanya anda tetap berjalan dan hidup.

Jurus 8. COMPUTER SOFTWARE TECHNOLOGY
Kaya akan pengetahuan tentang kemajuan teknologi komputer akan mempermudah dalam membantu gerakan-gerakan perencanaan lansekap,alat-alat aplikasi ‘graphic software’,GIS akan mempermudah untuk bekerja dalam bermacam-macam media presentasi maupun disiplin ilmu yang lain.

Jurus 9.ACTIVE LISTENING
Gunakan telinga untuk selalu mendengar dan memperhatikan sekitar maupun pendapat-pendapat para jawara lainnya yang terlebih dahulu berkelana dirimba kearsitekturan.akan menambah wawasan .
Berkolaborasi dengan para sesama jawara akan meciptakan sudut pandang yang lebih luas kedepan. Aktif mendengar akan lebih mudah melihat jawaban dari permasalahan perencanaan lansekap.

Nah….! Jurus-jurus sudah diketahui,tinggal turun gunung.

Satu guru satu ilmu …..tolong jangan ganggu..!

Gedubragggghh…Awas ada Tikus!!!


Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 05.03 | Permalink | 0 comments
Selasa, November 11, 2008
Budaya Ber-pameran


D
ikalangan para praktisi profesi arsitektur lansekap,Budaya ber-pameran belumlah merupakan suatu kebiasaan yang harus di jalani,hal ini mungkin karena ‘kita’ terkurung dalam budaya ketimuran yang enggan untuk unjuk gigi dan menghindari pernyataan ‘sok pamer’ dari kalangan masyarakat lingkungan sekitar atau kadang merasa belum pantas untuk berpameran.
Budaya ketimuran yang seharusnya menjadi Mata-Air bagi sumber inspirasi kreatif seakan menjadi perangkap bagi proses kreatifitas seorang arsitek lansekap.

Padahal ber-pameran hendaknya menjadi suatu budaya yang serius dan tidak bisa di abaikan, karena ia menghubungkan antara seorang perancang dan karya serta masyarakatnya.suatu bentuk ‘ruang’ bagi intropeksi pribadi maupun kreatifitas karya-karya arsitektur lansekap.
coba perhatikan......

Coba perhatikan di bidang-bidang yang lain,ber-pameran hasil karya telah biasa dilakukan seperti pameran lukisan,pameran hasil kerajinan ,pameran mobil atau bentuk pameran lainnya.Hal ini terjadi karena adanya kesadaran akan arti pentingnya suatu bentuk pameran.

Pameran merupakan suatu ruang manifestasi atau pernyataan seorang perancang,lewat sebuah pameran seorang perancang dapat berinteraksi dengan para pengunjung maupun peminatnya lewat karya-karyanya,pameran mewujudkan suatu proses komunikasi formal diantara kedua belah pihak melewati komunikasi bahasa visual.
Pameran hasil karya arsitektur lansekap hasil karya seorang perancang dapat juga menjadi suatu bentuk promosi atau propaganda kampanye thema-thema tertentu.
Dengan seringnya ajang pameran hasil karya arsitektur lansekap di adakan akan berakibat positif bagi usaha melahirkan para perancang arsitektur lansekap muda yang kreatif dan berbakat.

Pameran dapat di kategorikan kedalam 3 kategori umum ,Yaitu;
( muliyadi mahamood,1993)
  • Pameran solo atau Pameran tunggal, memperagakan hasil karya seseorang 
  • Pameran Restopektif, merupakan pameran hasil karya sepanjang karier atau hidup seseorang dari satu masa ke masa lainnya
  • Pameran kelompok,biasanya memperagakan hasil karya daripada sebuah kelompok perancang,pameran ini lazimnya mempunyai manifesto atau tujuan menyampaikan pesan topik tertentu yang di rencanakan oleh kelompok tersebut

Dan pameran hasil karya seoran arsitek lansekap, tidak harus dilaksanakan didalam suatu gedung yang full dengan AC, dimana karya-karyanya kerap kali akan di bingkai rapi serta disinari cahaya lampu .Pameran hasil karya lansekap bisa diadakan di alam atau lansekap lingkungan sekitar , dimana pengunjung dan peminat adalah orang-orang ramai yang menatapnya sambil berjalan-jalan maupun berkendaraan.

Semangat berpameran serta dengan penyelenggaraan pameran yang baik akan mampu mendorong seorang arsitek lansekap terus berkarya demi mencapai tujuan-tujuan yang direncanakan untuk kebaikan sosok pribadi maupun masyarakat.
Dampak positif yang lain semangat berpameran akan dapat menimbulkan bentuk apresiasi masyarakat terhadap keprofesian arsitektur lansekap serta dapat memberikan informasi yang akurat dan baik mengenai peran serta arsitektur lansekap dalam pembangunan berwawasan lingkungan.

Dalam dunia seni rancang arsitektur lansekap, ber-pameran perlu di jadikan budaya yang serius dan bersih, karena disinilah tersedia suatu ’ area’ interaksi antara seorang perancang dengan pengunjung.berbagai reaksi , kritik dan penilaian daripada para pengunjung akan dapat menjadi satu udara segar bagi ruang inspirasi dan kreatif seorang perancang untuk dapat lebih maju dalam berkarya.dan alangkah lebih baiknya jika pameran sudah menjadi suatu kebiasaan dan dimulai dari usia dini para perancang arsitek lansekap pada wilayah akademis.

Berkarya dan Ber-Pameran hendaknya menjadi satu bentuk terpadu dan membudaya.

Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 03.56 | Permalink | 0 comments