Minggu, Juni 26, 2011
Martha Schwartz"The Million Dollar Baby"


R
elung-relung kehidupan dalam berprofesi tidak hanya untuk ditatapi dan di analisa dengan segala beribu-ribu teori tentang Ruang Terbuka Hidup, dengan Berjuta-juta teori definisi tentang keilmuan arsitektur lansekap dan dengan segala kiat-kiat konsep unggulan untuk dapat berhasil dan bertahan hidup dalam kehidupan ber-Arsitektur Lansekap.

Kenyataan berbrofesi akan terasa manis dan pahit jika hanya kita sebagai insan arsitek lansekap tidak hanya menatapi dan merenung tapi temuilah arsitektur lansekap di arena kehidupan nyata.kepahitan dan manisnya kehidupan berprofesi tidak akan di dapat diruang-ruang perpustakaan atau di estalase pusat pertokoan mewah, temuilah arsitek lansekap di dunia nyata dialun alun kekaryaan dan lepaskan rasa serta emosi dapat mengekplorasi setiap relung-relung keilmuan arsitektur lansekap.
Sesuatu yang tertunda bukanlah tidak akan terjadi, sesuatu yang tertunda hanya sebentar melambat dari putaran evolusinya dan kemudian akan kembali berputar pada poros kehidupan berprofesi.

Seorang Martha Schwartz yang tidak hanya menekuni keilmuan dari balik meja akan tetapi berani untuk menjelajahi ruang ke kreatifan meskipun pada awalnya sebagian orang tidak begitu menyukai hasil karya hasil polesannya ,untuk memposisiskan dirinya pada jajaran para elite arsitek lansekap kelas dunia,segala sayembara berkelas dunia di ikuti, lembar demi lembar gambar perancangan lansekap di begadangin hingga subuh membuat karya menjadi sebuah masterpiece bagi arsitektur lansekap dapat bersuara ,bernyani dan hidup.Tak lelah jika kalah tetap berkarya dan alhasil berpuluh-puluh pengharagaan atas kemenangan dalam setiap sayembara arsitek lansekap diraih ,dengan pelan tapi pasti mengangkat namanya menjulang tinggi untuk diperhatikan di kancah dunia persilatan arsitek lansekap dunia seiring dengan permintaan perancangan dari berbagai klien internasional.

Disain-disain hasil.....


kekaryaan Martha Schwartz tidak hanya dapat membuat bidang ilmu arsitektur lansekap yang di cintai dan ditekuninya bertengger pada posisi sebenranya akan tetapi Martha schwartz membuat arsitektr lansekap melewati batas main stream keilmuan, dan menjadi bahan literature studi bagi berbagai insane praktisi.
Keanggunan dan keluwesan Art-pop menjadi ciri dari setiap karya besutan perempuan yang selalu bertampilan modis dan elegan, membuat bisnis arsitektur lansekap menjadi lahan yang bernilai tidak saja dalam perkembangan bidang ilmu arsitektur lansekap tapi juga bernilai dalam bentuk pendapatan ekonomi

Martha swart yang telah dapat merubah variebel disiplin keilmuan arsitektur lansekap menjadi komoditi ekonomi bagi kehidupan berprofesi, beribu-ribu dollar dikeluarkan untuk menghargai karyanya, dan tidak salah Martha swart menjadi ikon dan pantas mendapat julukan “The Million Dollar Baby”

Sebuah julukan yang tidak hanya pantas untuk disandangnya tapi ikut menginspirasi berjuta-juta para praktisi Arsitek Lansekap di dunia,terlihat di negeri Indonesia, beberapa gaya atas keberanian goresan Martha Schwartz terpampang dalam beberapa disain local di resort-resort terkenal di bali dan penulis sebagai salah satu yang mengidolakan “The Million Dollar Baby” tanpa sadar ikut terpengaruh, dalam beberapa disain perancangan karakter Art-pop mulai menjadi kesukaan dalam mengolah sebuah ruang baik itu ruang privat maupun ruang public.

Karakter Art-Pop terlihat menjadi bentuk yang paling elegan bagi perancangan lansekap dia area-area urban apalagi jika di kawinkan dengan garis-garis tradisional yang merupakan kekayaan budaya bangsa,sehingga sebuah ruang yang akan mengstimulasi emosi psikologis penikmat karya lansekap dapat secara total merasakan pesan yang terekam didalam sebuah ruang lansekap.

“Landscape Design is a doctrine, a way to perceiving the human being and our relationship with nature and universe” begitulah prinsip seorang Martha Schwartz “ The Million Dollar Baby”

Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 23.33 | Permalink | 0 comments
The god father..Old soldier never die


A dvice to young professional:"the best thought come to us unwares:not by study; that is, not directly by study, But if entirely without study, you will not have knowledge enough or strength enough to pick up the gold you stumble upon.

But don't let study or what youo have arrived at or hope to arrove at by study be the end, only the means....what you want is unconsciously and incidentally to cultivate your eye and the eye of your mind and heart.

It will come when you dont know it - this appreciation of excellency, NEVER FEAR...


Wajah yang terkenal dan diingat setiap para insan profesi arsitek lansekap adalah wajah seorang Frederick law Olmsted..wajah yang menjadi wajah pertama di ingat dan di perkenalkan pada awal-awal kuliah di semua universitas dunia. Boleh dikatakan Olmsted bagaikan Godfather bagi keilmuan arsitektur lansekap,Dia yang pertama dan selalu akan menjadi yang utama sedangkan nama-nama lain dan wajah-wajah lain hanya mengembangkan dan bahkan membuat arah baru bagi kemajuan arsitektur lansekap di dunia.

Idealisme dan Ideology bentang alam yang di yakini oleh Olmsted dapat memberikan pencerahan bagi sebuah proses pembangunan didunia tetap dianut dan diturunkan dari generasi hingga generasi hingga sampai di ibu pertiwi Indonesia.Ilmu dari dunia barat ini sudah menjadi bagian pengetahuan bagi dunia Timur, dalam keseharian sudah banyak karya turunan dari prinsip bentang alam yang di yakini Olmsted masih terlihat hingga di ibukota Jakarta.

Kedigjayaan pemikiran Olmsted diwarisi oleh berbagai para praktisi terkenal dari dunia barat dan diteruskan ke dunia belahan timur, kita kenal nama Garrect eckbo, Ian mc harg, Hideo Sasaki, Peter Walker hingga EDAW group serta nama tokoh arsitektur lansekap yang selalu dalam setiap diskusi para praktisi arsitektur lansekap dalam negeri sering di ucapkan dan segala pemikiran tokoh lansekap dunia tersebut menjadi bahan acuan dan landasan bagi perdebatan ilmiah.seakan-akan tidak akan sah jika dalam perdeban ilmuah mengenai arsitektur lansekap tanpa menyertakan nama-nama tersebut.

Dan yang terjadi…!! adalah


Dari apa yang teori bentang alam yang diteruskan oleh para pengikut Olmsted ke Indonesia tidak hanya jadi pedoman acuan dalam merancang ruang luar di daratan kepulauan Indonesia tapi juga membuat para arsitek lansekap dalam negeri ‘terjebak’ dengan segala produk barang hasil industri arsitektur lansekap dunia barat ,konsep green roof, konsep vertical garden yang katanya merupakan pemikiran evolusioner untuk pemecahan masalah global warming (baca: gombal Warning) dikuti dengan pengadaan barang elemen produksi luar-negeri yang harus di beli dengan mata uang dollar. Jika tidak menggunakan bahan produksi tersebut maka segala konsep tersebutpun akan tidak akan bisa terlaksana seakan tiada daya untuk berkarya sebagai seorang arsitek lansekap di Indonesia dengan tanpa menggunakan produk barang import.Dan yang paling parah adalah beberapa materi lunak (soft material) yang nota bene merupakan kekayaan alam mulai tergantikan dengan jenis-jenis tanaman import, hal tersebut bisa dilihat pada jalur-jalur hijau ibukota atau jalur hijau perumahan.

Ironis sekali, coba kita rewind sejenak perjalanan dalam menekuni keilmuan arsitektur lansekap Indonesia yang pada awalnya hanya harus membeli ilmu import arsitektur lansekap untuk dapat menjadi pengetahuan lewat uang kuliah setiap mahasisawa fakultas arsitektur lansekap , dilanjutkan dengan pembelian produk-produk import dimulai dari dari pengadaan alat tulis , meja gambar kelengkapan seorang arsitek, merk-merk impor seperti Mutoh, Max, Rotring, Staedler, Faber castle seakan sudah akrab dengan telinga para arsitek lansekap di Indonesia belum lagi buku-buku literature yang rata-rata berasal dari buku import, meskipun kini alat gambar sudah tergantikan dengan teknologi digital computer maka produk-produk software hingga hardware import pun tetap saja mendominasi kehidupan para praktisi.

Bisa dibayangkan berapa banyak barang produk import yang digunakan oleh oleh seorang arsitek lansekap, mulai dari kuliah hingga berpraktisi.

Sampai kapan hal ini akan berhenti, sampai kapan hal ini akan beralih menjadi produk-produk andalan dalam negeri…???

Tak salah jika kita merupakan “bangsa pelupa” karena di Indonesia, karena nama surti – tejo tidak pernah menjadi bahan acuan dalam berdebat atau berdiskusi dalam forum ilmiah,entah apa alasannya,padahal surti-tejo yang membangun Borobudur yang merupakan produk keajaiban dunia di bentang alam magelang , surti –tejo yang merencanakan dan membangun Candi prambanan yang menjadi kawasan heritage , surti tejo juga yang mendisain serta merencanakan taman karang asem di bali, taman sari di jogja dll

Produk kekaryaan mahakarya arsitektur lansekap Indonesia yang tidak hanya meninggalkan warisan keagungan dan kemegahan peradaban bangsa dalam ruang lingkup arsitektur lansekap akan tetapi juga meninggalkan warisan ideologi pemikiran kearifan local dalam merencana dan merancang sebuah ruang luar,dan tercipta hingga kini keahlian pengerajin ukiran dan pahat dari berbagai elemen material local yang hanya ada di Indonesia.hanya menjadi bagian dari sejarah bangsa yang ‘terlanjur’ terlupakan dan tak pernah untuk di eksplorasi menjadi keunggulan ruang lingkup arsitektur lansekap.

Dan jangan salahkan jika di Bali sana ada seorang atau mungkin lebih dari seorang praktisi arsitek lansekap dari dunia barat, memanfaatkan keteledoran kita dengan mengoptimalkan warisan surti dan tejo tersebut .Mereka ‘orang asing’ yang mengerti akan potensi dan manfaat warisan budaya menjadikan keunggulan dalam berkarya dengan menggunakan berbagai elemen produk lokal budaya karya surti-tejo menjadi barang mahal dalam keunggulan berpraktisi.

Tepat sudah jika di analogikan kita bagaikan "ikan yang selalu berenang mencari air di kolam” atau " bagaikan ayam yang mati dilumbung padi"

Tak salah jika dikatakan Olmsted adalah god father yang tidak hanya diitakuti untuk ditinggalkan oleh para praktisi local akan tetapi Olmsted adalah godfather yang menguasai segala pemikiran dan tindakan para praktisi arsitek lansekap untuk berbuat dan bertindak.

Old soldier never die…bravo olmsted
I hate you But I love You....

Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 23.07 | Permalink | 0 comments