Dalam industri hospitality,
kegagalan jarang terjadi secara dramatis.
Ia tidak selalu terlihat dari bangunan yang runtuh atau proyek yang mangkrak.
Kegagalan paling berbahaya
justru berjalan pelan.
Okupansi yang stagnan. Review yang biasa saja. Tamu datang sekali, lalu tidak
pernah kembali.
Masalahnya sering bukan pada
estetika.
Bukan pula pada kurangnya kemewahan.
Masalahnya adalah ruang yang
tidak bekerja sebagaimana mestinya.
Sebagai perencana masterplan
hotel dan villa resort, saya melihat pola yang berulang. Berikut adalah sepuluh
kesalahan desain yang diam-diam menggerogoti kualitas pengalaman tamu.
1. Kedatangan Tanpa Rasa “Tiba”
Arrival adalah momen
emosional pertama. Di sinilah persepsi dibentuk.
Banyak resort membuat akses
masuk yang fungsional tetapi datar. Tidak ada transisi, tidak ada
kompresi–ekspansi ruang, tidak ada framing view.
Tamu masuk, turun dari
kendaraan, dan… tidak merasakan apa pun.
Padahal first impression
adalah fondasi emosi. Tanpa rasa “tiba”, resort kehilangan momentum awal yang
seharusnya membangun antisipasi dan ekspektasi.
2. Perjalanan Ruang Tanpa Cerita
Dari lobi ke kamar, dari
kamar ke restoran, dari restoran ke kolam renang—semuanya lurus, cepat, tanpa
makna.
Resort bukan sekadar tempat
bermalam. Ia adalah rangkaian bab pengalaman.
Setiap transisi harus terasa
seperti bagian dari narasi: ada ritme, ada kejutan, ada jeda. Jika perjalanan
ruang tidak dirancang, tamu hanya berpindah lokasi, bukan menjalani pengalaman.
3. Ruang Publik yang Hanya Fotogenik
Banyak ruang publik didesain
untuk kamera, bukan untuk manusia.
Secara visual menarik.
Instagrammable. Namun ketika digunakan, terasa dingin, tidak nyaman, atau tidak
memiliki fleksibilitas aktivitas.
Ruang publik yang baik bukan
sekadar latar foto. Ia harus hidup—mendukung interaksi, percakapan, relaksasi,
dan dinamika sosial.
Keindahan harus bisa
disentuh, bukan hanya dilihat.
4. Tidak Ada Sense of Place
Desain yang bisa ditempatkan
di mana saja pada akhirnya tidak berarti apa-apa.
Ketika material, lanskap,
dan bahasa arsitektur tidak berakar pada konteks lokal, resort kehilangan
identitas. Tamu tidak merasa terhubung dengan tempatnya.
Sense of place bukan ornamen
etnik. Ia adalah pemahaman terhadap budaya, iklim, vegetasi, topografi, dan
cerita setempat.
Biarkan tempat berbicara.
5. Indoor dan Outdoor Terputus
Di kawasan tropis, ini
adalah kesalahan fatal.
Banyak resort membangun
ruang dalam yang tertutup rapat, lalu memperlakukan lanskap sebagai latar
belakang.
Padahal kekuatan resort
tropis terletak pada integrasi. Angin, cahaya alami, suara alam, dan transisi
semi-outdoor adalah bagian dari pengalaman inti.
Jika indoor dan outdoor
tidak menyatu, tamu kehilangan esensi “hidup di alam”.
6. Skala yang Salah Rasa
Skala terlalu besar membuat
tamu merasa kecil dan terasing. Skala terlalu sempit membuat ruang terasa
sumpek.
Kesalahan proporsi sering
terjadi karena desain dilihat dari drone atau gambar siteplan, bukan dari
perspektif manusia.
Ruang harus dirasakan dari
tinggi mata manusia.
Proporsi harus berbicara pada tubuh dan psikologi, bukan hanya pada komposisi
visual.
7. Sirkulasi yang Membingungkan
Jalan yang tidak jelas.
Minim wayfinding. Jalur servis yang bersinggungan dengan jalur tamu.
Alih-alih menikmati suasana,
tamu sibuk mencari arah.
Sirkulasi yang baik harus
intuitif. Tamu merasa dipandu tanpa merasa diarahkan. Ruang yang logis
menciptakan rasa tenang dan percaya diri.
8. Lanskap Hanya Menjadi Dekorasi
Lanskap bukan kosmetik.
Terlalu banyak proyek
memperlakukan taman sebagai elemen pelengkap setelah bangunan selesai.
Hasilnya: vegetasi tempelan, tidak fungsional, tidak membentuk mikroklimat,
tidak menciptakan pengalaman.
Lanskap seharusnya menjadi
struktur utama yang membentuk ruang, memberi naungan, mengarahkan pandangan,
menciptakan aroma, dan membangun atmosfer.
Resort tropis tanpa lanskap
yang hidup adalah kontradiksi.
9. Malam Hari Mati
Banyak resort dirancang
hanya untuk siang hari.
Saat malam tiba, pencahayaan
keras, suasana datar, tidak ada layer ambience. Area publik kehilangan energi.
Padahal malam adalah babak
berbeda. Api, cahaya hangat, bayangan, suara serangga, dan refleksi air dapat
menciptakan pengalaman yang lebih intim dan berkesan.
Night experience bukan
tambahan. Ia bagian dari narasi.
10. Desain untuk Ego Pemilik, Bukan untuk Tamu
Ini yang paling berbahaya.
Ketika desain lebih fokus
pada simbol status, monumentalitas, atau kebanggaan personal, tamu menjadi
nomor dua.
Ruang menjadi panggung
pamer, bukan ruang rasa.
Desain yang kuat lahir dari
empati. Tamu adalah pusatnya. Setiap keputusan—zoning, orientasi, material,
hingga detail kecil—harus menjawab satu pertanyaan: apakah ini meningkatkan
pengalaman tamu?
Resort yang Kuat Bukan yang Paling Mahal
Resort yang kuat adalah yang
paling sadar.
Sadar bahwa:
- Setiap transisi adalah bab.
- Arrival menentukan emosi.
- Perjalanan ruang membangun cerita.
- Malam hari punya karakter sendiri.
- Tamu datang untuk merasakan, bukan mengagumi
gambar siteplan.
Ketika pengalaman tidak
dirancang secara utuh—dari kedatangan hingga malam terakhir—dampaknya tidak
selalu langsung terasa. Namun perlahan, okupansi melemah. Review menjadi datar.
Brand sulit naik kelas.
Desain hebat tidak perlu
berteriak.
Ia menuntun. Ia menyentuh. Ia meninggalkan jejak rasa.
Sebagai masterplanner, tugas
saya bukan membuat gambar yang indah.
Tugas saya adalah memastikan ruang bekerja—secara emosional dan secara ekonomi.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah resort Anda benar-benar dirancang untuk tamu, atau hanya untuk terlihat
mengesankan?
Jawaban atas pertanyaan itu
akan menentukan masa depan aset hospitality Anda.
Read more!

.jpg)

.jpg)
.jpg)
