Sabtu, April 04, 2026
Theatre of Landscape: Ketika Resort Bukan Dibangun, Tapi Disutradarai

 


Ada satu kesalahan mendasar yang terus berulang dalam perancangan resort:
kita terlalu sibuk merancang bangunan, dan
lupa merancang pengalaman.

Padahal, tamu tidak datang jauh-jauh untuk melihat layout.
Mereka datang untuk merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka temukan di tempat lain yaitu
sesuatu yang bahkan seringkali tidak bisa mereka jelaskan, tapi selalu akan mereka ingat.

Di titik inilah konsep Theatre of Landscape menjadi relevan.
Bukan sebagai gaya desain.
Tapi sebagai cara berpikir.

Lanskap Adalah Panggung, Bukan Latar

Bayangkan sebuah teater.

  • Panggung menentukan kekuatan pertunjukan
  • Aktor menghidupkan cerita
  • Penonton mengalami emosi
  • Sutradara mengatur alur

Dalam resort, struktur ini tidak berubah—hanya perannya yang bergeser:

  • Lanskap = panggung utama
  • Alam = aktor utama (laut, angin, cahaya, kontur, vegetasi)
  • Tamu = penonton yang bergerak
  • Masterplanner = sutradara pengalaman
  • Arsitektur = framing device (bukan pusat perhatian)

Masalahnya, sebagian besar resort hari ini membalik struktur ini.
       Bangunan dijadikan pusat.
       Lanskap menjadi dekorasi.

Akibatnya, pengalaman menjadi datar.
Tidak ada klimaks. Tidak ada transisi. Tidak ada cerita.

Resort Bukan Komposisi Massa, Tapi Alur Emosi

Resort yang kuat selalu memiliki narasi ruang.

Bukan sekadar zoning, tapi urutan pengalaman yang disengaja.

Contoh sederhana alur yang efektif:

  1. Arrival – Compression
    Jalan masuk yang tertutup, teduh, sedikit misterius
    → menciptakan rasa penasaran
  2. Reveal – Expansion
    Lobby terbuka dengan view dramatis
    → momen “wow” pertama
  3. Transition – Immersion
    Jalur menuju villa dengan ritme cahaya, suara, tekstur
    → memperlambat kesadaran tamu
  4. Private Experience – Stillness
    Villa sebagai titik hening
    → bukan sekadar kamar, tapi ruang kontemplasi
  5. Memory Point – Emotional Anchor
    Sunset deck, infinity pool, atau cliff edge
    → titik yang akan difoto, diingat, dan diceritakan ulang

Tanpa alur ini, resort hanyalah kumpulan fungsi.
Dengan alur ini, resort menjadi pengalaman yang berlapis.

Studi Nyata: Bali sebagai Panggung Alami

Pulau Bali adalah contoh paling jelas bagaimana lanskap bisa menjadi aktor utama.
Namun tidak semua resort di Bali berhasil “membaca” panggung ini.

1. Amankila



Dirancang oleh Ed Tuttle

Amankila bukan sekadar resort di tepi laut.
Ia adalah komposisi vertikal antara gunung, hutan, dan laut.

  • Akses masuk tidak langsung membuka view
  • Tamu “ditahan” dalam perjalanan
  • Lalu dilepaskan pada momen dramatis: cascading infinity pool yang mengarah ke horizon

Di sini, arsitektur hampir “menghilang”.
Yang
terasa justru skala lanskapnya.

Ini adalah contoh bagaimana sutradara memahami kapan harus menahan, dan kapan harus membuka.

2. Four Seasons Resort Bali at Sayan



Dirancang oleh John Heah

Pendekatan di sini berbeda terasa lebih spiritual, lebih inward.

  • Tamu masuk melalui jembatan tinggi di atas lembah
  • Tidak langsung turun ke lobby
  • Tapi melewati transisi yang hampir “ritualistik”

Lobby tidak berdiri sebagai objek,
melainkan sebagai bagian dari lanskap sungai dan vegetasi.

Ini bukan tentang melihat pemandangan.
Ini
tentang masuk ke dalamnya.

3. Capella Ubud



Dirancang oleh Bill Bensley

Pendekatan ekstrem: naratif dan teatrikal.

  • Resort dikemas seperti ekspedisi kolonial
  • Jalur, tenda, detail merupakan elemen yang semuanya untuk membangun cerita
  • Lanskap bukan hanya natural, tapi juga dramatis secara naratif

Di sini, kita melihat satu hal penting:
lanskap bisa berbicara bukan hanya lewat alam, tapi juga lewat cerita yang dibangun di atasnya.

Kesalahan yang Harus Dihentikan

Jika ditarik jujur, ada tiga kesalahan utama dalam banyak proyek resort:

1. Over-design

Terlalu banyak elemen, terlalu banyak gesture
→ lanskap kehilangan kekuatan alaminya

2. Flat Experience

Semua “dibuka” sekaligus
→ tidak ada rasa penasaran, tidak ada klimaks

3. Building-Centric Thinking

Bangunan jadi pusat
→ pengalaman jadi sekunder

Ini bukan soal estetika.
Ini soal cara berpikir yang keliru sejak awal.

Peran Baru Masterplanner: Sutradara, Bukan Drafter

Jika ingin menghasilkan resort yang benar-benar bernilai secara emosional dan komersial ,
maka peran masterplanner harus berubah.

Bukan lagi sekadar:

  • menyusun massa
  • mengatur fungsi
  • memastikan efisiensi

Tapi menjadi:

  • pengarah pengalaman
  • penyusun ritme ruang
  • pencipta memori

Karena dalam hospitality, yang dijual bukan kamar.
Yang dijual adalah perasaan yang tertinggal setelah tamu pulang.

Penutup: Jika Tidak Ada Cerita, Tidak Ada Nilai

Resort yang kuat selalu punya satu kesamaan:
mereka tidak terasa seperti “dibangun”.

Mereka terasa seperti ditemukan.

Seolah-olah tempat itu memang sudah ada,
dan desain hanya membantu kita untuk melihatnya.

Jika lanskap Anda tidak bercerita,
maka resort Anda hanya akan menjadi tempat menginap.

Tapi jika lanskap Anda menjadi panggung teatrikal alami 
dan Anda tahu bagaimana menyutradarainya

maka resort Anda akan menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga:
sebuah pengalaman yang tidak bisa digantikan.

Label: , , , ,


Read more!
 
posted by smartlandscape at 16.58 | Permalink | 0 comments
Selasa, Maret 17, 2026
Dialektika Filsafat Ruang Lanskap Luar: Menemukan Makna di Antara Bentuk dan Pengalaman

 

Pendahuluan:

Di antara hamparan tanah, bayangan pepohonan, dan suara angin yang mengalir lembut di antara ilalang, ruang lanskap luar menyimpan lebih dari sekadar keindahan kasatmata. Ia adalah panggung terbuka tempat realitas fisik bertemu dengan getaran batin manusia. Dalam dunia desain lanskap modern, perdebatan tidak lagi hanya berkutat pada bentuk dan fungsi, tetapi merambah pada pemahaman yang lebih dalam—tentang makna, nilai, dan hakikat ruang itu sendiri. Artikel ini mencoba menelusuri dialektika filosofis tentang ruang lanskap luar: dari tesis objektif, antitesis subjektif, hingga sintesis yang menyatukan keduanya dalam kerangka konseptual yang utuh.

 

Tesis: Lanskap sebagai Representasi Realitas Objektif

Pandangan pertama melihat lanskap luar sebagai entitas fisik yang bisa dipetakan, diukur, dan dikontrol. Ia diposisikan sebagai objek rasional yang dirancang untuk memenuhi fungsi ekologis, estetika, maupun utilitarian. Perspektif ini mengakar pada pendekatan kartografik dan ilmiah: struktur spasial, drainase, orientasi cahaya, hingga efisiensi sirkulasi pejalan kaki. Dalam kerangka ini, ruang dianggap sebagai latar yang harus dikelola demi kepentingan kolektif.

“Ruang adalah panggung bagi aktivitas manusia dan sistem alami, yang harus dikelola secara rasional untuk kepentingan kolektif.”

Namun, meskipun rasional dan terstruktur, pendekatan ini sering kali meninggalkan kekosongan makna, mengabaikan nuansa personal dan emosional dari interaksi manusia dengan ruang.

 

Antitesis: Lanskap sebagai Pengalaman Subjektif dan Simbolik

Sebagai respons terhadap pendekatan teknokratis, muncul pemahaman bahwa lanskap adalah sesuatu yang dialami secara subjektif. Ia bukan hanya hadir sebagai bentuk, tetapi juga sebagai perasaan dan kenangan. Dalam pandangan fenomenologis, ruang lanskap adalah tempat yang ‘dihidupi’, bukan hanya ‘dihuni’. Ia adalah cermin dari budaya, jiwa, dan sejarah personal maupun kolektif.

“Ruang bukan sekadar tempat; ia adalah cermin dari jiwa dan budaya yang mengalaminya.”

Lanskap dalam konteks ini memuat lapisan simbolik, menjadi medan spiritual dan naratif di mana manusia menanamkan makna. Bentuk bukanlah segalanya; justru resonansi emosional dan daya tafsir terhadap ruang menjadi kunci utama dalam pengalaman ruang.

 

Sintesis: Lanskap sebagai Dialog antara Dunia Fisik dan Dunia Makna

Mengintegrasikan dua kutub ekstrem tersebut, lahirlah pandangan dialektis bahwa lanskap luar merupakan hasil perjumpaan antara realitas objektif dan pengalaman subjektif. Dalam sintesis ini, desain lanskap bukan hanya perkara kalkulasi dan fungsi, melainkan jalinan antara empati dan logika, antara kebutuhan ekologis dan cerita manusia. Lanskap adalah tempat di mana desain fisik membuka diri terhadap kemungkinan interpretasi dan pengalaman.

“Ruang lanskap adalah narasi terbuka: kita merancang bentuknya, tetapi pengunjung mengisi jiwanya.”

Di sinilah kekuatan desain hadir bukan sekadar sebagai pengaturan ruang, tetapi sebagai penciptaan makna yang berkembang seiring waktu dan relasi manusia dengan ruang.

 

Struktur Konseptual Dialektika Lanskap

Untuk memahami kedalaman filsafat lanskap, kita perlu menguraikan kerangka konseptual yang terdiri dari lima dimensi filosofis:

1. Ontologi: Hakikat Ruang Luar

Apakah ruang lanskap hanya kumpulan bentuk fisik? Atau ia adalah eksistensi yang hidup dan berinteraksi dengan kesadaran manusia?

Ruang lanskap adalah entitas multidimensi. Dalam pandangan ontologis fenomenologis, ia hadir bukan sebagai wadah pasif, melainkan sebagai organisme hidup yang berdenyut dalam relasi dengan manusia, waktu, dan memori. Ia bukan sekadar ada—tetapi menjadi.

“Lanskap bukanlah latar belakang dari hidup manusia, tetapi bagian dari keberadaan manusia itu sendiri.”

 

2. Epistemologi: Cara Mengetahui dan Memahami Ruang

Bagaimana kita memahami lanskap? Lewat ilmu ukur atau pengalaman rasa?

Ada tiga jalur epistemologis yang saling melengkapi:

  • Rasionalisme Spasial: pendekatan ilmiah berbasis data spasial.
  • Fenomenologi Estetis: pendekatan pengalaman inderawi dan emosional.
  • Hermeneutika Naratif: pendekatan interpretatif berbasis kisah, sejarah, dan budaya.

“Setiap jalan setapak adalah kalimat. Setiap lanskap adalah paragraf dari kisah kolektif.”

 

3. Aksiologi: Nilai dalam Lanskap

Apa nilai yang melekat pada ruang lanskap luar?

Lanskap memuat empat lapisan nilai:

  • Estetika: keindahan yang tidak hanya visual, tetapi juga sensorial dan kontekstual.
  • Fungsionalitas: kemampuan ruang untuk melayani kebutuhan manusia dan alam.
  • Spiritualitas: kedalaman batin dan keterhubungan dengan yang sakral.
  • Imajinatif: ruang kosong yang memicu kreativitas dan kontemplasi.

“Lanskap adalah panggung terbuka, dan kita semua adalah pengarangnya.”

 

4. Etika: Tanggung Jawab dalam Merancang

Siapa yang berhak menentukan makna lanskap? Bagaimana kita memperlakukannya secara etis?

Etika lanskap mempersoalkan relasi kuasa dalam perancangan: antara perencana, pengguna, dan alam. Ruang yang baik bukan yang hanya mengabdi pada kehendak desainer, tetapi yang membuka ruang partisipasi, keberlanjutan, dan keadilan spasial.

 

5. Praxis: Dari Filsafat ke Tindakan Desain

Bagaimana menerjemahkan pemahaman filosofis ini ke dalam praktik perancangan?

Desain lanskap yang filosofis tidak terjebak pada gaya atau bentuk, tetapi pada proses menciptakan ruang yang terbuka terhadap waktu, pengalaman, dan perubahan. Ia bersifat kolaboratif—melibatkan manusia, alam, dan cerita sebagai aktor-aktor pencipta.

“Lanskap yang baik bukan yang sempurna secara bentuk, tetapi yang terbuka untuk hidup dijalani dan diisi makna.”

 

Penutup:

Ruang lanskap luar adalah puisi yang ditulis oleh waktu, dibaca oleh indera, dan ditafsir oleh jiwa. Ia bukan sekadar proyek fisik yang selesai ketika bangunan berdiri atau taman ditanami. Ia adalah ruang hidup, ruang makna, dan ruang peristiwa yang terus berubah seiring hadirnya manusia dan semesta.

Dalam zaman yang cenderung tergesa dan teknokratis, pendekatan filosofis terhadap lanskap menawarkan jeda: untuk merenung, menyimak, dan merancang dengan kedalaman. Karena pada akhirnya, merancang ruang luar bukan hanya tentang ‘membentuk tempat’, tetapi tentang ‘membentuk pengalaman hidup’.

 

Label: , , , , ,


Read more!
 
posted by smartlandscape at 02.22 | Permalink | 0 comments
Selasa, Juni 10, 2025
Menghidupkan Jiwa Tapak: 5 Pendekatan Unik Merancang Resort Berbasis Sense of Place

 

Bayangkan ketika anda menginap di sebuah resort yang tak hanya indah dipandang mata, tapi juga terasa akrab, menyentuh rasa, dan seperti berbicara diam-diam kepada jiwa Anda. Tempat yang membuat Anda ingin diam sejenak, menutup mata, dan menarik napas dalam karena terasa begitu "pas".Artinya resort seperti ini bukan sekadar dirancang untuk difoto, tapi untuk dirasakan, dikenang, bahkan dirindukan. Itulah kekuatan dari pendekatan desain berbasis sense of place.

Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi 5 (lima) Pendekatan Unik Merancang Resort Berbasis Sense of Place, yang saya pelajari dan kembangkan selama bertahun-tahun dalam merancang resort. Ini bukan rumus atau teori baku, tapi lebih seperti lima lensa perspektif untuk melihat tapak dengan cara yang lebih dalam dan manusiawi. Mari kita mulai satu persatu:

1. "Menanamkan Jiwa Tempat"

Setiap tapak punya cerita. Ada yang pernah menjadi ladang palawija, tempat upacara adat, atau sekadar tanah yang tiap pagi disapu embun dan diterpa angin gunung. Saat kita merancang resort, kita tak sedang menciptakan tempat baru akan tetapi kita sedang menambahkan bab baru dalam cerita yang sudah lama berjalan di tapak tersebut.

Menanamkan jiwa tempat berarti menghormati narasi lanskap. Bisa dimulai dari yang sederhana: mengikuti arah aliran air, mempertahankan pohon tua, atau menyesuaikan bentuk bangunan dengan kontur alami. Tapi lebih dari itu, ini tentang menyelaraskan desain dengan rasa tempat itu sendiri. Kadang, jawabannya tidak datang dari sketsa awal di drawing book A3, tapi dari duduk diam di tapak, mendengarkan suara jangkrik, atau berbincang dengan warga lokal.

Resort yang memiliki jiwa tempat tidak terasa asing. Ia seperti rumah kedua yang belum pernah kita kenal sebelumnya.

2. "Kapital Ruang"

Di dunia properti, kita sering berbicara tentang nilai lahan dan return of investment. Tapi ada satu jenis kapital yang sering luput dari perhitungan: kapital ruang. Ini adalah potensi unik dari sebuah tapak yang bisa dikonversi menjadi nilai pengalaman dan komersial.

Misalnya, sepetak tanah di ujung tebing dengan pandangan langsung ke laut bukan hanya cantik—itu adalah ruang dengan kapital visual tinggi. Atau sebuah lembah kecil yang tenang bisa menjadi lokasi ideal untuk spa atau meditasi. Dengan mata yang peka, kita bisa mengenali kekuatan-kekuatan tersembunyi ini.

Kapital ruang bukan soal luas atau lokasi strategis, tapi bagaimana ruang itu bisa menghadirkan momen tak terlupakan dan disain perencanaan yang tepat akan mengangkat nilai itu, bukan sekadar memoles tampilan.

3. "Bahasa Tanaman dan Materi"

Coba ingat kembali resort paling berkesan yang pernah Anda kunjungi. Apa yang Anda lihat? Wangi bunga flamboyant di pagi hari, bunga kamboja disenja hari? Lantai kayu tua yang berderit lembut saat diinjak? Dinding batu alam yang terasa dingin dan kuat?

Tanaman dan material adalah bahasa yang digunakan lanskap untuk berbicara kepada kita. Memilih vegetasi lokal bukan hanya soal ekologi, tapi juga soal rasa dan memori. Begitu juga dengan material: batu dari sungai terdekat, kayu dari hutan yang lestari, atau bahkan keramik buatan perajin desa.

Dengan bahasa ini, kita menciptakan cerita. Kita menanam makna. Dan tamu yang hadir tidak sekadar melihat keindahan, tapi menyerap rasa tempat itu ke dalam ingatan mereka.

4. "Aktivasi Ruang Emosional"

Resort bukan hanya tempat tidur dan kolam renang. Ia adalah panggung tempat emosi manusia bermain. Dalam satu hari, seorang tamu bisa merasa kagum, lega, damai, bahkan terharu.

Tugas kita sebagai perancang adalah menyiapkan skenario itu. Misalnya, lorong menuju villa yang perlahan menyempit, memberi rasa penasaran dan kejutan. Atau tempat duduk di bawah pohon besar yang seolah memeluk dan melindungi dari hiruk-pikuk dunia.

Aktivasi ruang emosional berarti mengajak manusia merasa, bukan hanya beraktivitas. Kita ciptakan momen untuk bernafas lega, merenung, atau sekadar merasa hadir sepenuhnya di sini dan sekarang.

5. "Harmoni Tak Terlihat"

Ini bagian yang paling sering tak disadari tapi sangat terasa: kenyamanan alami. Resort yang nyaman tidak harus selalu dingin karena AC atau hening karena insulasi buatan. Kadang, kenyamanan sejati datang dari hal-hal yang hampir tak terlihat.

Pohon yang ditanam strategis bisa menghadirkan bayangan alami. Tanaman penghasil fitonsida seperti cemara atau kayu putih bisa meningkatkan kualitas udara dan memperbaiki suasana hati. Jalur angin yang dijaga bebas hambatan bisa membuat area outdoor tetap sejuk tanpa kipas.

Desain yang baik seharusnya bekerja diam-diam. Ia tidak mendominasi, tapi mendukung ritme alami tapak dan tubuh manusia. Itulah harmoni tak terlihat yang membuat tamu betah berlama-lama tanpa tahu persis kenapa.

Penutup: Membangun Tempat, Bukan Sekadar Proyek

Kelima pendekatan ini bukanlah metode instan. Ia membutuhkan waktu, empati, dan keberanian untuk tidak terburu-buru. Tapi hasilnya bukan sekadar resort yang indah di brosur, melainkan tempat yang hidup, punya napas, dan mampu menyentuh batin manusia.

Desain yang berhasil bukan yang membuat orang berkata "wow" saat pertama kali datang, tapi yang membuat mereka tak ingin pulang.

 

“Beranilah merancang dengan rasa, bukan hanya data. Karena tempat yang punya jiwa, tak akan pernah kehilangan makna.”

 

 


Label: , , , , ,


Read more!
 
posted by smartlandscape at 16.12 | Permalink | 0 comments
Selasa, Mei 27, 2025
Mengukir Jiwa Bangsa di Bundaran HI: Sebuah Ode untuk Arsitektur Lanskap

 

Bayangkan sebuah kota yang bernapas, yang bercerita, yang hidup melalui ritme air, cahaya, dan budaya. Bayangkan Jakarta, jantung Indonesia, tempat jalanan berdetak, lampu berkedip, dan mimpi-mimpi bangsa lahir. Di tengahnya berdiri Bundaran HI, di mana Bundaran HI bukan sekadar persimpangan jalan raya , tapi panggung di mana ideologi, sejarah, dan kreativitas bersatu. Saya, seorang arsitek lanskap , berdiri di panggung itu, bukan untuk menata taman, tapi untuk mengukir jiwa bangsa melalui desain yang berani, penuh makna, dan abadi. Ini bukan cerita tentang keresahan , tapi tentang kebanggaan menjadi arsitek lanskap, tentang api kreativitas yang tak pernah padam, dan tentang tekad untuk menunjukkan bahwa ilmu kami adalah denyut nadi peradaban.

 

Menyulam Simfoni di Jantung Jakarta

Dua dekade lalu, saya dipercaya merancang ulang lanskap Bundaran HI kesempatan ini diberikan oleh Dinas Pertamanan DKI dan saya didukung oleh pihak sponsor swasta yaitu PT.Mitra Indra Buana, Kita mengetahui semua bahwa Landmark yang lahir dari visi Ir. Soekarno, sang arsitek Indonesia modern adalah sebuah Kawasan Bundaran HI dengan Tugu Selamat Datang, secara simbolik  kolamnya sebagai yoni dan tugu menjulang sebagai lingga identic dengan simbolik dari tugu Monumen nasional, Kawasan Bundaran HI adalah sambutan hangat bangsa kepada dunia. Ketika kesenpatan itu datang kepada saya sebagai Arsiotek Lanskap,saya ingin lebih, Saya ingin Bundaran HI bernyanyi, menari, dan berbicara bukan sekedar hanya menjadi sebuah Landmark kota yang kaku dalam skala monumentalnya saja, saya ingin air mancurnya menjadi puisi, lanskapnya menjadi manifesto, setiap sudutnya mencerminkan jiwa Indonesia. Saya ingin Indonesia melihat: arsitektur lanskap bukan bayang-bayang arsitektur bangunan, bukan sekadar “tukang taman”, akan tetapi kami adalah pencipta ruang, penutur budaya, pengukir identitas.


Maka, saya melahirkan konsep thema  “Gerak, Warna, Suara”,yang timbul karna analisa  patung selamat datang terkesan kaku statis, sedankan keberadaannya ada ditengah pusat dinamika kota Jakarta, thema “gerak,warna dan suara” itu di implementasikan lewat mengatur efek dan tata letak semburan menjadi  sebuah simfoni air mancur yang tak hanya memukau mata, tapi menggetarkan jiwa. Saya merancang formasi air mancur menjadi lima formasi yang menjadi penanda waktu bagi kota Jakarta disumbu jalan protocol MH.thamrin dan Sudiman Jakarta, sekaligus Lima Formasi air mancur yang masing-masing menyuarakan lima sila Pancasila, ideologi yang digali Soekarno untuk menyatukan bangsa., Ini bukan sekadar desain—ini adalah teriakan bahwa arsitektur lanskap bisa menangkap esensi Indonesia:

1.     Selamat Pagi Jakarta: Semburan Air mancur dengan efek Kabut embun yang lembut membelai kota dengan sinar mentari pagi bias menciptakn warna Pelangi, seakan menandakan ucapan Salam Selamat Pagi bagi penghuni kota  dan juga  melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Seperti doa pagi, formasi ini membawa kesejukan, mengingatkan bahwa iman adalah fondasi bangsa.

2.     Selamat Siang Jakarta: Dilambangkan dengan semprotan Jet air menjulang vertikal, penuh kuasa, mencerminkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Ini adalah semangat kerja, keadilan, dan martabat manusia di puncak hari.

3.     Selamat Sore Jakarta: dilambangkan dengan Lengkungan air saling merangkul, diterangi kilau matahari senja kota yang memberikan efek bias pada titik air mancur warna keemasan,sebagai simbolik menyuarakan Persatuan Indonesia. Senja menjadi pelukan hangat yang menyatukan suku, agama, dan budaya.

4.     Selamat Malam Jakarta: Dilambangkan dengan efek Air mancur berbentuk jamur dalam formasi melingkar, bercahaya dengan uplighting, melambangkan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan. Ini adalah musyawarah malam, di mana kebijaksanaan menerangi demokrasi.

5.     Selamat ber-Hari Minggu Jakarta: dilambangkan dengan harmoni semua formasi, bergerak dengan tinggi-rendah saling mengisi, bersuara dan berwarna, merayakan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Hari libur menjadi pesta kebersamaan, cerminan cita-cita Pancasila.

Setiap semburan adalah sila, Setiap gerakan adalah cerita, Setiap kilau adalah Indonesia. Saya ingin Bundaran HI menjadi penanda waktu yang hidup dan bukan berpedoman hanya pada jam dinding kota yang kaku, tapi air mancur yang bernyanyi tentang ritme kehidupan Jakarta, dari embun pagi hingga gemerlap malam.

Menancapkan Budaya di Setiap Inci

Baca selengkapnya »

Label: , , , , ,


Read more!
 
posted by smartlandscape at 23.16 | Permalink | 0 comments