Selasa, Oktober 18, 2016
RESOR ANTI HOTEL GAYA ADRIAN ZECHA ( Bag 3 )
Filosofi BISNIS 
 Secara keuangan, perusahaan ini cukup solid. Tahun 1999, penjualannya mencapai US$30 juta sari 400 kamrnya. Tahun 2000 naik mencapai sekitar US$50 juta. Sukses Zecha mengelola bisnis resor tak lepas dari filosopi bisnisnya, yakni menyajikan pengalaman yang tak terlupakan, santai, tanpa stress serta unik. Karena itu, Amanresort yang sejak awalnya dirancang sebagai “Rumah pribadi selama liburan” harus dirancang senyaman mungkin tanpa mengubah lingkungannya.

Zecha memang diuntungkan oleh pengalaman profesionalnya sebagai wartawan, punya relasi luas, plus seleranya yang unik. Semua ini menjadikan bisnisnya dicari dan di minati kalangan kelas atas dunia. 

Amaresort yang lebih mirip resor butik ini beberapa kali mendapat penghargaan internasional.
“ Zecha melihat ceruk pasar dan segera mengisinya.” Kata Andrew Harper, penerbit berita pariwisata, Andrew Harpers’s hideaway report.Amnresort, kata Andrew, mengenakan biaya yang kelewat mahal tapi disanalah terletak angka hunian resornya. Desain arsitekturnya terlihat alami dan menggunakan bahan bahan local. Seperti jembatan kayu diresornya di bali.

“Premis utama bisnis resor saya, anda harus bisa merasakan seolah-olah sedang diminta menjadi tamu dirumah desa saya untuk akhir pekan,” kata pria yang sejak 23 tahun silam tinggal d AS ini. 

AMAN JUNKIEST fans fanatik
Uniknya, rata –rata tamu Zecha. Mereka yang pernah kesana sebelumnya ( return guest). Bahkan, ada tamunya tergolong pecandu berat Amanresort. Mereka ini pengunjung tetap Aman disatu tempat, atau menggilir semua resornya diseluruh dunia.

”Jika Anda menginginkan pelayanan sekelas Club Med, Aman resort tak bernilai bagi anda.” Kata pengusaha keturunan Indonesia ini. 

Karena punya klub tamu yang fanatik, hampir dapat dipastikan, Amnresort tidak pernah beriklan disurat-kabar atau menerbitkan press release. Sejak awal, pemegang paspor belanda ini menyadari pentingnya iklan dari mulut ke mulut (Word of Mouth). plus jaringan temannya yang kebanyakan orang berkantung tebal diseluruh dunia. Sebelum membuka resor barunya, dia pasti mengundang koleganya untuk acara akhir pekan.

” The Aman sungguh fenomena anti hotel. Apa yang anda lihat disana, sesuatu yang Anda tidak inginkan sewaktu merancang hotel,” kata Georg Rafael, mantan rekan bisnis zecha., yang kini memgembangkan Rafel Chain. 

Andrian Zecha benar benar menangkap selera petualang sejati dunia : Kembali ke alam.


Read more!
 
posted by John papilaya at 00.58 | Permalink | 0 comments
RESOR ANTI HOTEL GAYA ADRIAN ZECHA (Bag 2 )
A manResort merupakan resor pertama yang dibangun Zecha di Phuket, Thailand, 1998. Selanjutnya, AmanResort menjadi merek yang ditaruh didepan nama resornya diseluruh dunia. Kebanyakan resornya didahului dengan kata “ Aman”. 

Kini, setidaknya 12 resor yang beroperasional dimana Zecha sebagai salah-satu pemegang sahamnya (45%). Di perancis, Amnresort memeiliki hotel Lezelin, sedangkan di Prancis polinesia ada Hotel Bora bora. Di Indonesia, kebanyakan ber-operasional di Bali dengan nama Amandari, Amankila, AmanNusa, AmanWana di pulau mojo,sumbawa dan Amanjiwo di Jogjakarta. Di Meksiko, mereka memiliki Hotel Mahakua Hacienda de San Antonis. Di philipina ada Amanpulo, Amanpuri di Thailand dan Amangani di AS. Masih dalam persiapan, pendirian tiga resor lagi bernama Maharesort di India, Di Maharesort, zecha tampaknya bermain sendiri, dan menurut rencana kalau selesai akan di merger dengan Amanresort. 

Strategi Adrian Zecha 
Zecha amat meyakini setiap strateginya. namun, dia tidak pernah bombastis sebelum membuka resor baru. Dia sangat anti iklan dan publikasi berlebihan, yang menurutnya cenderung hiperbolis. Beberapa kawasan seperti mediteranian dan Karibia adalah sasaran berikutnya. Selain itu, Asia Selatan dan Tenggara tentu pula incarannya, terutama Indonesia. “ saya berkeinginan membesarkan perusahaan 2 dua kali lipat dalam 5-10 tahun kedepan” kata Zecha menjanjikan. 

Nama Adrian Zecha dan AmanResort bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, Ibarat Bill gates dengan Microsoft, Feeling bisnis Zecha juga tajam, termasuk memilih Lokasi baru Amanresort yang terbukti menjadi salah satu kunci sukses bisnisnya.

“Gampang sekali, karena banyak pecandu Aman diseluruh dunia, Mereka asset saya yang tak ternilai,” kata Zecha.

Mereka itulah, sambung mantan wartawan ini, yang merekomedasi lokasi-lokasi eksotis baru yang pas untuk resor ala Aman. Untuk membuktikan rekomendasi konsumennya, zecha terjun langsung ke lokasi. Dari sana kemudian dia mempertimbangkan biaya, ketersediaan barang dan segi keamanannya. Oleh karena itu, dia tidak gampang percaya kesan orang lain mengenai suatu lokasi.

 “ Lokasi itulah yang memberitahu saya, apa yang harus saya lakukan, bukan sebaliknya. Beberapa orang ( pengusaha) datang ke lokasi, mengubah dan merusaknya. Menurut saya, kalau anda menyukai lokasi, kenapa harus diubah bentuknya.”Tutur Zecha. 

Kiat AmanResort
Berbekal pengalamannya yang luas sebagai wartawan, Zecha paham gambaran umum desain resor. Memang, dia tidak terlibat langsung dalam perencanaan estetis dan elemen-elemen dasar resor. Yang penting dan menjadi pegangannya, desain resor harus sesuai dengan lokasi resort. Beberapa hal dasar lain adalah kesederhanaan, serta peka terhadap kultur setempat dan lingkungan.

” Kami selalu berinvestasi dan menampilkan sajian dengan cita-rasa tinggi,” ujar Zecha. 

Kendati dikelola manajemen yang sama, penampilan setiap resor sejauh mungkin unik dan istimewa. Boleh dikata, mereka punya kesamaan hanya dalam 1-2 hal – standar pelayanan. Perbedaanya, pengalaman para tamu yang menginap disana. Setiap tamu bisa saja merasakan sentuhan berbeda serta cerita beragam. Namun, yang pasti, itulah keunikan gaya hidup yang coba dipenuhi dengan sungguh sungguh oleh staf AmanResort diseluruh dunia. jangan heran kalau melihat pelayan resor menempelkan namanya di jidat. 

Harga Mahal tapi diminati 
Eksklusivitas Amnresort memang juga pada Harga. Karenanya, tak heranlah, tamu sekelas Prince Diana atau Robert Redford beta berminggu minggu tinggal disana, meski tarifnya mahal. Kendati dianggap mahal, manajemen mengganggap harga tersebut murah.

” Jika Produk anda Kategori produk missal, anda harus menjualnya pada level yang mampu di beli konsumen. Tapi, jika produk dalam jumlah terbatas, Anda tidak bias menciptakan uang kecuali dengan harga tinggi. Untuk itu, Tarif sebesar US$700 misalnya, untuk membayar layanan, perhatian dan ukuran ruangan. Dibanding yang ada dapatkan ditempat lain, kami jamin, kami member lebih banyak untu harga yang sama,” ungkap Zecha dengan gaya menjual.

Read more!
 
posted by John papilaya at 00.45 | Permalink | 0 comments
RESOR ANTI HOTEL GAYA ANDRIAN ZECHA (Bag 1 )
A rtikel ini sudah lama menjadi bagian kliping penulis untuk mempelajari cerita dan seluk beluk mengenai Andrian Zecha dengan AMANRESORT nya , mungkin masih bermanfaat bagi pembaca sebagai referensi keberhasilan seorang Zecha 

Sumber:Majalah SWA 14/XVII/12-25 juli 2001 ( riset: Atang Windarto) 

Awalnya 
Andrian Zecha adalah Ikon baru. Inovasinya memang terbilang nyentrik dan keluar pakem untuk mata dan symbol wisata modern. Ia membangun jaringan resor yangserba alami, terpencil, tanpa kolam renang, sepi, jauh dari keramaian,hingar bingar kota, formalitas dan gemerlap aksesori imitasi hotel modern. Yang anda temui di Amanresort - demikian nama jaringan resor yang di bangun zecha - segala hal yang berbau “primitive” seperti jembatan kayu, tempat minum dari bamboo, dan sejenisnya.

Jangan Tanya harganya. Tidak cukup bagi eksekutif serba tanggung atau pejabat tinggi sekalipun, berlibur disana berminggu minggu. Mereka yang menginap disana umumnya kaum kosmopolit, filantropis atau pebisnis kelas atas dunia, yang mendambakan pengalaman batin sesungguhnya. Bayangkan harga kamar resor US$ 750 ( Rp 8-9 juta) per malam.
Harga Ini hanya tertandingi hotel kelas internasional bintang lima plus. 

Andrian Zecha-kelahiran Jakarta, ayah cheko dan Ibu Indonesia- membangun bisnisnya dari bawah. Sejak 1970-an,Zecha ikut mendirikan jaringan Hotel Regent - Jaringan hotel bintang lima Asia pertama - bersama Robert Burns dan Georg Rafael. Trio ini membangun 12 Hotel Regent pertama di Asia.

Pada tahun 1986, Zecha menjual 30% sahamnya di jaringan hotel ini senilai US$ 30 Juta. Pada tahun yang sama, dia terjun kebisnis property. Anak keturunan pengusaha ini lalu membentuk holding investasi dengan membeli Regent Bangkok. Kemudian dibelinya Hotel Dorchester, London dan setelah berapa lama dilepaskan ke Sultan Brunei. 

Suka Duka Berbisnis
Rangkaian pengalaman pahit - manis dan baik - buruk selama berbisnis, plus pengalaman historis di Indonesia. Sepertinya membuat Zecha dewasa. Sampailah pada tahun 1990, saat Zecha mendirikan Aman resort bersama rekan bisnisnya. Untuk mendukung usaha nya, Zecha mencari dukungan dana dari mitra. Hotel Mandarin tampaknya tertarik tawaran Zecha, dan setuju mengucurkan dana senilai US$58,5 juta, tapi dengan mengendalikan interest Zecha.

Sayang, mantan mitra bisnis Rupert Murdoch ini ini, tampaknya kurang berkenan dengan model penawaran Mandarin. Dia lebih suka mengundang rekannya Clement Vaturi, pemilik jaringan Hoteliere Immobliere,Perancis. 
Vaturi menyetor US$65 juta untuk 55% saham di holding-Amanresort dulu-silverlink. Perjanjian kerjasama ini mulanya mulus. Masalah muncul setelah empat tahun berjalan. Pasalnya, Vaturi harus menyerahkan sebagian sahamnya ke Colony Capital, perusahaan pembiayaan property Amerika Serikat. Kejadian ini dipicu tak terselesaikannya pinjaman vaturi di lembaga keuangan tersebut senilai US$125 juta.

Maka, sejak saat itu pula Amansari dikontrol Colony sepenuhnya dengan menempatkan tiga eksekutifnya di jajaran direksi. Sebagai pemegang saham minoritas,  pun dilucuti dari posisinya sebagai chairman dan CEO, oktober 1988. Vaturi juga pemegang monoritas, dan tidak punya kekuasaan apa-apa. 

Namun setelah tak berkuasa, Ide Zecha masih jalan. Terbukti dia sukses menggandeng Group Setai ,AS, membangun kondo dipantai AS. Artinya , tidak mengurus AmanResort bukannya Zecha lantas diam saja. 

Dalam benaknya kemudian muncul ide membangun resor baru di Meksiko, Maharesort. Pada saat bersamaan, perselisihan vaturi Vs Colony kian mencapai titik terang. Ini semua berkat kerja keras Zecha meyakinkan teman lamanya Thadani, agar menalangi utang Vaturi. Perusahaan afiliasi thadani di hongkong, Lee Hing Development, akhirnya menjadi pemegang saham mayoritas di AmanResort. Thadani-rekan bisnis zecha dan pemilik Schroder Capital Partners- menghendaki Zecha kembali memimpin perusahaan itu. Maka, per Maret 2001 Zecha kembali memimpin dan menjalankan perusahaan senilai US$165 juta ini. 

Sebenarnya, antara Zecha dan Colony tidak ada perbedaan visi dalam mengelola bisnis. Keduanya selalu menekankan detil manajemen, hingga warna bed cover misalnya. Zecha sangat peduli pada pengembangan merk resornya. Sebab, nilai Amanresort- menurut Zecha dan Colony – terutama pada mereknya.

Read more!
 
posted by John papilaya at 00.37 | Permalink | 0 comments
Senin, Maret 07, 2016
PERKEMBANGAN ARSITEKTUR LANSEKAP DI CHINA
P erkembangan Profesi Arsitektur Lansekap di china menunjukan pertumbuhan yang sangat luar biasa baik jumlah perguruan tingginya yang melampaui jumlah di USA maupun tingginya nilai gaji yang didapatkan oleh setiap praktisi Arsitek Lansekap disana.

Mengapa hal ini bisa terjadi demikian ? dan aspek apa yang menyebabkannya ? Hal apa yang menjadi latar belakang kemajuan pesat berkembanganya ilmu Arsitektur Lansekap di china

Artikel oleh Daniel Jost (Artikel bulan February 2013 landscape Architecture Magazine) dibawah ini sekiranya dapat sedikit memberikan penjelasan dan wawasan tentang pesatnya kemajuan disiplin ilmu dan profesi Arsitektur Lansekap di China , yang dilakukan dengan proses diskusi antara

The Panelists (clockwise from top left): Jeff Hou, ASLA; Zhifang Wang; Kongjian Yu, FASLA; Ron Henderson, FASLA; Frederick R. Steiner, FASLA; Binyi Liu, Honorary ASLA; Chuo Li; Daniel Jost, ASLA; Jie Hu, International ASLA

THE GREAT EXCHANGE From the February 2013 issue of LAM:

By Daniel Jost

Professors from both sides of the Pacific talk about the amazing cultural exchange happening between American and Chinese universities and the rising stature of landscape architecture in China.

A decade and a half ago, the Chinese government “canceled” landscape architecture education in China. Some bureaucrats decided the discipline was superfluous. 
Today, the profession of landscape architecture is growing in that country like nowhere else in the world. Landscape architects are among China’s most highly paid professionals, and Chinese students are flooding into American universities to study landscape architecture at an unprecedented rate.

Meanwhile, landscape architecture education has come back into favor in China, and Chinese universities have established or reestablished nearly 200 landscape architecture programs in less than a decade.

Some of the people who lead China’s most influential programs studied in the United States, and some of the programs have strong connections with American academics. Tsinghua University’s landscape architecture program was established with the help of a team of American landscape architects led by Laurie Olin, FASLA, of the University of Pennsylvania. Patrick Miller, FASLA, a longtime professor at Virginia Tech, is the honorary chair of landscape studies at Tongji University in Shanghai.

Yet the teaching of landscape architecture in China is often quite different from what U.S. students would recognize—many Chinese programs make a stronger connection between education and practice. And what each program teaches is, for the moment, less standardized than even America’s highly diverse programs. Right now, China has no system for accrediting landscape architecture education, though efforts are under way to change that.

In December, we brought together eight academics from the United States and China to talk about the cultural exchange taking place between their countries and issues educators face in China as they try to build the profession there.

Four of the panelists live and work primarily in China.

Kongjian Yu, FASLA, whose work appears in this month’s issue, is the founder and dean of Peking University’s College of Architecture and Landscape Architecture, the president of Turenscape, and a visiting professor at Harvard’s Graduate School of Design.

Jie Hu, International ASLA, is an associate professor at Tsinghua University and the director of the Research Center for Landscape Architecture Planning at the Beijing Tsinghua Tongheng Planning and Design Institute—best known for its design of Beijing’s Olympic Forest Park.

Binyi Liu, Honorary ASLA, heads the landscape architecture department at Tongji University in Shanghai, and he is also an adjunct lecturer at Virginia Tech. Liu was recently named the vice chairman of the Education Steering Committee in Landscape Architecture for China’s National Institution of Higher Education. And

Zhifang Wang recently became an associate professor at Peking University. For the past four years, she has been an assistant professor at Texas A&M University. All of our Chinese panelists have studied in the United States.

Our panel also included four American academics with extensive knowledge of the landscape architecture profession in China.

Frederick R. Steiner, FASLA, is the dean of the School of Architecture at the University of Texas at Austin. He was formerly a visiting professor at Tsinghua University and has served as an adviser to Peking University.

Ron Henderson, FASLA, was an associate professor of landscape architecture at Tsinghua University for six years before returning to the United States to chair Pennsylvania State University’s landscape architecture program in 2011.

Jeff Hou, ASLA, chairs the Department of Landscape Architecture at the University of Washington and has led a studio focused on earthquake recovery in Sichuan, China. And, finally,

Chuo  Li is an assistant professor at Mississippi State University. She grew up in China’s Fujian province and studied in China before pursuing graduate studies in the United States. 

The conversation occurred over Skype. What follows are edited and condensed highlights, which have been corrected, in places, for language variations.

Baca selengkapnya »

Read more!
 
posted by John papilaya at 15.30 | Permalink | 0 comments
Jumat, Maret 04, 2016
PRICE LIST FEE
p raktisi arsitek lansekap selalu terikat dengan pembayaran fee design, meskipun besaran nilai pembayaran bukanlah faktor utama akan tetapi konsep yang berisikan solusi menjadi tolak ukur keberhasilan dan prestasi seorang praktisi Arsitek Lansekap.
Inovasi kreatif merupakan ruang penjelajahan bagi seorang arsitek lansekap menemukan jati diri dan identitas Arsitektur Lansekap Indonesia.



Penawaran besaran jasa pelayanan kepraktisian ternyata membelit masuk kedalam ruang saat proses kreatif berlangsung,Selain aspek waktu yang menjadi parameter menentukan waktu mungkin tidak ada salahnya perlu pertimbangan lain saat menentukan besaran nilai fee jasa.




Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 17.21 | Permalink | 0 comments