"Di negeri ini, tanah bukan sekadar
pijakan, ia adalah kenangan yang tumbuh, luka yang menyembuhkan, dan harapan
yang berakar dalam diam."
Di
sebuah negeri yang diselimuti kabut pagi, di antara gunung-gunung yang
membentang seperti raksasa tidur dan sungai-sungai yang berkelok seperti
untaian sutra perak, hiduplah seorang pemuda bernama Raka. Ia
adalah anak seorang penjaga hutan kerajaan, dan sejak kecil, ia telah terbiasa
berlarian di bawah pepohonan raksasa, mendengar suara dedaunan yang berbisik
dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mencintai tanah ini.
Suatu
hari, kakeknya memanggilnya duduk di bawah sebuah pohon beringin
tua yang berdiri megah di tengah alun-alun desa.
“Raka,
dengarlah baik-baik,” ujar sang kakek sambil menepuk tanah dengan
telapak tangannya yang kasar, penuh jejak waktu.
“Kau
pikir tanah ini hanya sekadar tanah? Tidak, Nak… ini adalah kitab yang ditulis
oleh leluhur kita.”
Raka
mengernyit. “Kitab?”
Sang
kakek tersenyum, matanya memandang jauh ke masa lalu yang tak terlihat. “Di
sini, di bawah pohon ini, nenek moyang kita dulu berkumpul, mendiskusikan
bagaimana membangun taman yang indah bagi para raja. Di hutan sana, mereka merancang
pematang sawah yang bisa mengalirkan air seperti urat nadi dalam tubuh manusia.
Mereka
tidak menyebutnya ‘arsitektur lanskap’, tetapi mereka telah melakukannya—karena
alam bagi mereka bukan sekadar ruang, tetapi bagian dari jiwa mereka.”
Raka
mengusap tanah di bawahnya, seakan mencoba membaca huruf-huruf tak terlihat
yang tertulis di sana.
“Lalu…
kenapa sekarang orang-orang berkata bahwa ilmu ini datang dari negeri jauh?
Apakah leluhur kita tidak mengetahuinya?”
Angin
sore berembus lembut, membawa suara burung yang kembali ke sarangnya. Kakeknya menghela
napas panjang.
“Dunia
berubah, Nak. Suatu hari, kapal-kapal besar datang, membawa orang-orang yang
berbicara bahasa yang asing. Mereka menggambar garis-garis lurus di atas tanah
kita, membangun taman-taman yang tampak rapi namun terasa asing.Mereka
menyebutnya ‘arsitektur lanskap’. Dan orang-orang kita mulai lupa… bahwa sebelum
itu semua ada, kita telah lebih dulu berbicara dengan tanah, dengan air, dengan
angin.”
Raka
menggigit bibirnya. “Jadi, apakah itu berarti ilmu ini bukan milik kita?”
Sang
kakek menggeleng, lalu dengan tangannya yang berkerut, ia mengambil segenggam tanah
dan menggenggamnya erat.
“Bukan
begitu, Nak. Ilmu ini bukan sesuatu yang asing. Ia bukan barang baru yang
dicangkokkan ke dalam hidup kita. Ia adalah bagian dari kita. Kau tahu, seperti
darah yang mengalir di tubuhmu, seperti ingatan yang diwariskan dari kakek buyutku
ke ayahku, lalu kepadaku, dan kini kepadamu. Ini bukan sesuatu yang datang dari
luar—ini adalah sesuatu yang telah ada dalam diri kita, bahkan sebelum kita
sadar bahwa ia ada.”
Raka
memejamkan mata. Dalam keheningan, ia mendengar suara angin
yang berdesir di antara batang-batang pohon, suara air yang menari di sungai,
dan langkah kaki leluhurnya yang pernah berjalan di tanah yang sama. Saat ia
membuka mata, ia melihat lanskap di sekelilingnya dengan cara yang berbeda.
Ini bukan hanya tanah. Ini adalah cerita. Ini adalah nyawa.
"Sebelum tanah ini dijadikan tapak
kekuasaan, ia lebih dulu menjadi tempat berdoa. Sebelum disebut 'arsitektur
lanskap', ia telah menjadi puisi yang ditulis dengan angin, air, dan
waktu."
Maka,
di hari-hari berikutnya, Raka tidak hanya berjalan di tanah itu—ia mulai membacanya,
mendengarnya, merasakannya. Ia tahu, tugasnya bukan sekadar menjaga pohon atau
sawah. Ia harus menjaga ingatan. Ia harus menjaga jiwa tanah ini, agar tak
pernah hilang, agar tak pernah terlupakan.
Karena
tanah ini bukan sekadar tempat berpijak. Ia adalah bisikan leluhur.
Ia adalah denyut nadi bangsanya. Ia adalah lanskap yang harus tetap
hidup dalam setiap anak negeri.
Lanskap
di Nusantara bukan sekadar ruang yang berubah seiring waktu. Ia adalah jejak
peradaban, kisah yang tak terputus, dan cerminan jiwa bangsa. Sejak zaman
kerajaan, saat hutan-hutan dipahat menjadi taman keraton, hingga era modern di
mana lanskap dipadatkan oleh beton, selalu ada benang merah yang menghubungkan
manusia dengan tanahnya.
Lanskap
adalah sejarah yang hidup—ia tidak diam dalam buku-buku akademik,
tetapi berdenyut dalam ingatan kolektif masyarakat. Ia mengalir dalam cerita
rakyat, terselip dalam legenda, dan tertanam dalam praktik budaya yang
diwariskan turun-temurun. Dalam naungan pepohonan rindang atau di antara
batu-batu candi yang ditumbuhi lumut, ada bisikan masa lalu yang tetap
berbisik kepada kita—bahwa hubungan manusia dan lanskap bukan sesuatu yang
tiba-tiba muncul, melainkan telah terjalin sejak leluhur kita pertama kali menjejakkan
kaki di bumi Nusantara.
Romantisme
dalam lanskap tidak hanya berbicara tentang estetika ruang, tetapi tentang cinta
dan keterikatan manusia dengan tanah airnya. Sebuah pohon tua di tengah
desa bukan hanya sekadar pohon, tetapi saksi bisu pertemuan dua sejoli, tempat
perayaan panen, atau titik awal perjalanan seorang anak yang kelak menjadi
pemimpin. Sebuah sungai yang mengalir di antara perkampungan bukan hanya
sekadar sumber air, tetapi juga jalur perdagangan, tempat bermimpi para
nelayan, dan kisah yang tak pernah berhenti diceritakan dari satu generasi ke
generasi berikutnya.
Dalam
perjalanan bangsa, lanskap telah mengalami perubahan drastis. Dari lanskap
alami yang sakral di zaman kerajaan, kolonialisasi yang membawa pendekatan
geometris dan kekuasaan, modernisasi yang mendistorsi nilai-nilai lokal, hingga
era kontemporer di mana kita mulai mencari kembali identitas kita yang hilang.
Namun, di balik semua transformasi ini, esensi lanskap Nusantara tetaplah satu:
ia adalah identitas kita, bagian dari DNA budaya kita, dan warisan yang harus
kita jaga.
Maka,
memahami arsitektur lanskap Indonesia bukan hanya soal belajar tentang taman
atau ruang terbuka, tetapi tentang mengenali diri kita sendiri sebagai
bangsa yang tumbuh bersama alamnya. Jika kita ingin membangun lanskap masa
depan, maka kita tidak boleh melupakan akar-akar yang telah memberi kita
kehidupan sejak dulu.
"Arsitektur lanskap bukan tentang
membentuk ruang, melainkan tentang mengizinkan ruang menyentuh kembali nurani
kita yang nyaris punah."
Dan
seorang mahasiswa baru, duduk di barisan depan, menatap tulisan yang baru saja ditorehkan
oleh dosennya: “Arsitektur Lanskap: Sebuah Ilmu yang Terlambat Dikenal.”
Label: artikel, Konsultan Lansekap, kontraktor lansekap, Landscape digital, opini, profil arsitek lansekap, serba-serbi, vertical landscape
Read more!