Rabu, September 12, 2007
Manusia-manusia yang bergelar MAHASISWA
Betapa senangnya pada waktu kita bisa diterima masuk perguruan tinggi sesuai dengan jurusan yang kita minati. Kegembiraan merasuki seluruh diri karena kita merasa lega dan bebas dari kegelisahan serta ketegangan yang semula mencekam diri, dimulai dari bersusah payah mendaftarkan diri dengan melengkapi syarat-syarat administrasi kemudian belajar untuk dapat mengikuti test sesuai jurusan, menunggu hari-hari pengumuman dengan rasa was-was, penuh diselimuti pikiran diterima atau harus mendaftar lagi ditempat yang lain?.

Dan pada hari ‘ H ‘ pengumuman, didapati nama kita tersusun berderet pada kolom lulus dan diterima. Sejuta gembira pun datang menghampiri dan timbul rasa bangga karena akan memasuki dunia pendidikan yang berbeda dengan era putih abu-abu, Bebas dari ikatan seragam, Beda dalam system pengajaran, Ketemu teman-teman baru dalam suasana yang jelas berbeda pula. Dan yang lebih membuat kegembiraan kita makin penuh, karena Orang tua juga ikut merasa bangga, famili bangga, teman-teman bangga kadang masyarakat sekitar lingkungan permukiman kita juga bangga. Kita mendapat gelar baru sebagai Mahasiswa/i. Sebuah gelar yang identik dengan system kuliah, SKS,dan kebebasan berdiri dikaki sendiri. sebutan Guru berubah menjadi Dosen,dan akan kenal dengan namanya ketua Senat & HMJ(himpunan mahasiswa jurusan).



Begitulah kira-kira yang dapat digambarkan pada saat kejadian permulaan kuliah, Handai taulan dan kerabat melakukan selamatan dan pesta untuk merayakan peristiwa itu. Semua itu terjadi disebabkan mereka bangga dan mempunyai harapan tinggi terhadap proses studi para mahasiswa/I untuk dapat menyelesaikan pendidikan dan mencapai impian-impian dimasa depan dan dengan diterimanya diperguruan tinggi berarti separuh jalan telah terlalui. Tentunya para mahasiswa/i tidak ingin kebanggaan itu pudar dengan memudarkan harapan yang bertumpu pada pundak para mahasiswa/I, Banyak permasalahan dan kendala-kendala baru yang belum pernah ditemukan pada saat sekolah di SMU dulu,persaingan yang kompetitif lebih terasa pada saat kita melangkah dibangku kuliah,semua itu harus dilakukan dengan kebebasan kita belajar,kebebasan kita memilih mata kuliah yang akan diikuti.Pengontrolan tindak-laku dibangku kuliah semuanya tergantung pada tanggung jawab kita untuk berada didunia kebebasan itu. Kita tidak ingin menjadi mahasiswa abadi, kita tidak ingin menjadi mahasiswa drop-out, kita ingin sukses dalam studi dan jika bisa dan mampu kita dapat selesai dan meraih gelar sarjana lebih cepat dari jatah waktu yang ditentukan.

Sukses dalam studi tidak datang begitu saja. Untuk memperoleh Hasil yang optimal, ada harga yang harus kita bayar, ada pengorbanan dan ada kekecewaan yang akan kita hadapi, tetapi semua itu akan terekam beserta kenangan-kenangan manis saat dibangku Kuliah.

Harga yang harus kita tunaikan untuk sukses dalam studi, termasuk mahal dan tinggi. Salah satunya harganya adalah mau membaca, rajin membaca, dan terus selalu membaca.menurut William D Baker dalam bukunya Reading skills, kira-kira 85% dari seluruh studi diperguruan tinggi meliputi membaca, Tugas yang berat...????

Kaum optimisme akan menjawab : “Bukannya berat tapi Menantang !!!”

Salah satu definisi MAHASISWA adalah : Seorang pria atau perempuan yang membaca buku-buku. dan,

Definisi PERGURUAN TINGGI adalah : adalah himpunan buku. Kehidupan perguruan tinggi akan menjadi semarak apabila mahasiswanya giat membaca dan perpustakaannya tidak pernah sepi dikunjungi.

Untuk menghadapi dan menjawab tantangan itu kita perlu ber- landaskan filsafat membaca yang kuat. Dengan mengerti dan memahami filsafat membaca, mudah-mudahan buku tebal atau tipis, buku sulit atau mudah, buku bergambar atau tidak, tidak akan menjadi persoalan kita, semuanya menjadi ‘bahan makanan’ kita, yang satu makanan besar dan yang lain makanan kecil. Kita harus 'makan' bila ingin tumbuh dari 'kecil' menjadi 'besar'

Ada tiga cara untuk belajar:

Pertama; Belajar dari Orang lain.
Kedua: Belajar dengan memikirkan sendiri dan
Ketiga; Belajar dari pengalaman.

dari ketiga cara tersebut, kesamaannya adalah Subjeknya Kita sendiri Yang Melakukannya Dan Tidak bisa diwakilkan .

Dosen bukanlah mahluk yang sempurna untuk dijadikan suatu jawaban dan alasan bagi suatu penilaian jelek atau bagus, pengetahuan pintar atau pengetahuan bodoh, mereka merupakan sebagian konstruksi pendidikan, konstruksi penting lainnya adalah keaktifan mahasiswa, pertanyaannya adalah sudah adakah dan sudahkan dimiliki dimiliki oleh mahasiswa ?

Sebuah kisah yang pernah diteladani oleh ketua mahkamah agung amerika pada saat waktu Franklin D Rooselvelt menjadi presiden AS. Suatu sore presiden Roselvelt mampir dirumah Holmes, ketua Mahkamah Agungnya. Pada waktu itu Holmes sedang sibuk membaca, tetapi dengan senang hati ia menemui Roosevelt.

Ketika Rooselvelt dipersilahkan masuk, ia bertanya,:
"Tuan Holmes, mengapa tuan tak pernah berhenti membaca?".

Holmes, yang pada saat itu usiannya sudah mencapai 90 tahun,menjawab.
"Tidak ada jalan lain untuk meningkatkan diri saya"

Holmes sadar bahwa pendidikan adalah proses yang berlangsung selama hidup. Orang Tidak “Menjadi Terdidik” Hanya karena perguruan tinggi. Perguruan tinggi hanyalah persiapan untuk menjadi terdidik. Dan untuk menjadi terdidik orang harus belajar selama hidupnya.


Kata-kata yang ditempatkan di depan atau lakang nama seseorang setelah lulus dalam pendidikan juga bisa merupakan boomerang bagi diri sendiri sebab gelar-gelar kesarjanaan menetapkan batas-batas kita, itulah sebabnya orang-orang sering tidak mau mengerjakan apapun diluar deskripsi tugas mereka,dan akhirnya terkungkung tanpa bisa bebas lagi untuk mengekspresikan karya.

Holmes juga sadar bahwa peningkatan diri harus diusahakan sendiri. Pada dasarnya, tak ada orang lain yang dapat mendidik kita selain diri kita sendiri. Sukses dalam studi dan belajar dapat kita capai berkat usaha kita sendiri, Itulah sebabnya,Holmes membaca dan tidak jemu atau jenuh membaca sampai usia berapapun.

Seandainya tiap hari kita membaca 15 menit saja ( sama dengan waktu yang diperlukan sebatang rokok untuk dihisap dan sama dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk memarkir mobil dibasement pusat perbelanjaan Plaza senayan ) dengan kecepatan 300 kata per-menit, kita akan membaca satu setengah juta kata tiap tahun-itu berarti, kira-kira 20 - 30 buku tiap tahun.

Seorang mahasiswa seharusnya dapat membaca lebih dari duapuluh buku tiap tahun. Bagaimana caranya untuk mencapai tujuan itu..???
Gunakanlah waktu selama kuliah sebaik mungkin, raih prestasi dengan cara yang baik dan jujur.

Jika di ibaratkan sebuah pondasi, pondasi yang lagi dibangun pada saat mahasiswa menentukan tingginya konstruksi bangunan yang dimiliki dimasa depan yang akan dapat diraih.

Jadikan membaca bagaikan merajut tampuk kekuasaan makin banyak membaca ,makin besar kekuasaan yang akan dimiliki yang pada akhirnya kekuasaan itu akan dapat merubah energi potensi menjadi prestasi yang terbaik dan masuk kedalam ruang penghargaan dan respek dari orang disekeliling.

Jangan pernah curang saat meraih nilai akademis ,hal itu akan membuat impian dimasa depan berubah jadi ‘13th street nightmares”.

Waspadalah…!!!!

Seorang sahabat pernah mengatakan

“Don’t be afraid of the space between your dreams and reality.If you can dream it ,you can make it so”.




Label:

 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 17.51 | Permalink |


0 Comments:


Posting Komentar

~ back home