Selasa, November 18, 2008
TANGGA Di dalam kaidah Ars.Lansekap


H
ampir disetiap pelosok daerah di Indonesia, Rumah tradisional memiliki tangga untuk sebagai pencapaian ke dalam bagian rumah dan bahkan beberapa rumah modern pun masih memiliki tangga di depan teras rumahnya.

Pada awalnya struktur tangga rumah-rumah tradisional di bentuk dari material kayu yang di ikat dengan rotan maupun akar-akar tanaman dan kaidah ini mampu menghasilkan tangga yang kokoh.
Asal muasal kata “TANGGA” terdiri dari dua kata yaitu “TANGAN” dan “GENGGAM” seperti tangan orang yang bersalaman,gabungan perkataan tangan dan genggam ini yang membentuk perkataan TANGGA ( Muliyadi Mahoomad’1993)
Kemajuan teknologi banyak berpengaruh dan menggubah kaedah konstruksi tangga termasuk bahan dan reka bentuknya,kalau dulu tangga dibuat dari material kayu maka kini tangga di bentuk dengan menggunakan semen,batu alam,besi dan material lainnya.

Tangga mempunyai pengertian yang sangat luas dalam kebudayaan bangsa Indonesia,secara simbolik ‘tangga’ sering berkaitan dengan makna dan arti lain seperti ‘Rumah Tangga’ yang merujuk pada status pernikahan,hal ini menunjukan makna dan arti tangga yang berhubungan yang berhubungan erat dengan konsep kekeluargaan dan hidup bermasyarakat.

Didalam beberapa.......



Didalam beberapa kalimat,kata ‘Tangga’ sering di sisipkan sebagai subjek pelengkap seperti; ’Tetangga’ yang berarti menunjukan kehidupan keluarga yang bertempat tingal dekat atau masih di satu wilayah,’Anggaran Rumah Tangga (ART)’ yang berisikan peraturan dan rumusan perilaku dalam kehidupan berorganisasi.

Dalam konteks lain ‘Tangga’ sering dihubungkan dengan pernyataan yang merujuk kepada peningkatan dan prestasi ,mis;”Tangga Kejayaan”malah ada jenis permainan seperti “Ular Tangga”pun di sisipkan kata ‘Tangga’ walaupun permainan ini tidak memakai tangga sebagai alatnya.

Ternyata tangga mempunyai pengertian yang mendalam dan wujud luas pengertian arti dan makna.

Dalam bidang Arsitektur , ‘Tangga’ merupakan tempat naik turun dari satu bidang lantai menuju level bidang lantai yang berbeda ketinggiannya.

Dan dalam Bidang Arsitektur Lansekap, Tangga juga merupakan Area Transisi serta penghubung antara dunia luar dengan ruangan didalam rumah yang merupakan Area transisi dari satu fungsi ruang ke-bentukan ruang lain yang memiliki sifat dan fungsi berbeda.

Sehingga dalam peletakannya tangga memiliki beberapa aspek yang perlu menjadi pertimbangan seperti Lokasi,Arah Tangga ,Bentukan Tangga dan Jumlah Anak Tangga
Dan tangga memiliki elemen pelengkap seperti; Tinggi ,Lebar dan Kedalaman,Borders dan Pagar Pengaman (Railing).

Kesesuaian reka bentuk, ketinggian ,berbagai elemen material dan warna menambah lagi nilai seni dan dekoratif bagi disain bentukan tangga ,keindahan bentuk reka tangga tergantung kepada ide kreatifitas dan ’ sense of art’ daripada seorang perancang sehingga peletakan tangga di depan rumah maupun tempat lainnya akan dapat selalu menjadi satu bagian yang menarik dan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Nilai-nilai estetika dan keunikan tangga bukan hanya terletak pada bentuknya ,tetapi terkandung juga arti serta makna-nya.

Maka, Pandai-pandailah men-disain tangga sehingga pepatah “Sudah Jatuh Ketimpa Tanggga’ tidak menjadi batu sandungan bagi kita.


 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 19.36 | Permalink |


2 Comments:


At 15.07, Blogger Kharianto

Desainnya sangat unik,,

salam kenal mas,,,

 

At 14.14, Blogger marr

bagus artikel nya, kebetulan lagi renovasi rumah. lagi nyari arsitek tangga nih, ada info ga yang harga terjangkau tapi designnya keren. trims :D