Jumat, Desember 12, 2008
Keep your ear to the Ground
M
engacu dari salah satu ciri-ciri khas yang dimiliki seorang professional yaitu memiliki pengetahuan atau kecakapan ‘esoterik’( keahlian hanya diketahui dan dipahami oleh orang-orang tertentu saja) yang tidak dimiliki oleh anggota masyarakat lain ,

mungkin uraian pernyataan teori diatas masih terlalu kabur dan terkesan fatamorgana karena masih bisa uraian tersebut dijadikan landasan bagi profesi lainnya ,tetapi seperti apa kata motto para pratikan arsitek lansekap yang berbisnis STAND-UP FOR OTHER DON’T GOSSIP -DON’T BITCH,
penjelasan dan uraian diartikel sebelumnya tidaklah terlalu mengecewakan dan berhasil memancing hasrat untuk ikutan memberikan ide-gagasan-konsep mini tentang hal-hal apa saja yang tersembunyi di arsitektur lansekap.

Dari film ‘berbagi suami’nya nia iskadardinata dimana dapat dibaratkan para suami dalam film tersebut adalah para profesional arsitek lansekap yang berusaha untuk menggeluti istrinya hanya dengan segala macam hasrat dan kebutuhan tanpa disertai dengan rasa cinta yang tak terbagi. Para profesional arsitek lansekappun hanya berusaha untuk sekedar mencari keuntungan dari bisnisnya dengan penuh sejuta impian dan harapan yang semu tanpa ada peningkatan kualitas akan kemampuan dan keahlian.
Apakah mereka melakukan kerja ber-profesi tanpa adanya suatu tujuan yang jelas dan tanpa pula sempat mengukur secara terperinci dan akurat jasa apakah yang akan diberikan kepada “klien” (baca;lahan) ?

Seringkali pada setiap pertemuan dengan para klien atau ‘sang istri’, sang suami hanya terpikir untuk akan segera mungkin mencari ‘obat kuat’ sebagai daya tambahan tenaga bagi memenuhi kebutuhan biologis para istri dan jika ternyata tidak juga mendapatkan hasil yang memuaskan kedua belah pihak ,maka terjadilah e***ulasi prematur atau dalam kata lain dilihat dari ‘kacamata bisnis’ terjadi kelumpuhan bisnis alias bangkrut ! dan pepatah ‘maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai’menjadi ruang penyesalan.

Bidang Arsitektur Lansekap bukanlah bidang yang sulit untuk diketahui secara jelas ruang lingkup bisnisnya, hal ini semua telah diketahui oleh para pratiksi yang telah terjun maupun yang belum ber-praktisi di dalam ruang lingkup bisnis ke-arsitektural lansekap, tetapi permasalahannya adalah sebeberapa besar mereka dapat meng-kalkulasikan kemampuan seorang professional arsitek lansekap dalam menjual jasanya dan menjadikan pengetahuan arsitektur lansekap menjadi komoditi jasa yang berharga dan bernilai untuk diperjualbelikan?

TRIGGER QUESTION

“UNIQUE SELLING POINT” apakah yang dapat dijual sebagai jasa arsitek lansekap?
“PELATIHAN APA YANG DIPERLUKAN UNTUK MENGOPTIMALKAN JASA TERSEBUT?

Terasa bias jika kita dihadapi dengan kedua pertanyaan tersebut, riset kecil-kecilan yang pernah dilakukan saat kedua pertanyaan itu diajukan ke para pratiksi yang sedang atau belum berkecimpung dibidang arsitektur lansekap pasti muncul jawaban juga yang terasa ngambang, kurang spesifik ada juga jawaban yang lebih mengena tetapi jika diambil suatu kesimpulan maka didapatkan rata-rata satu penyataan yang seragam jasaku adalah menciptakan keindahan sebuah taman dan pelatihan yang harus kudapat untuk mengoptimalkan jasa tersebut adalah pengetahuan kursus Autocad / komputer graphis.

Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika benar kedua kemampuan dan keahlian tersebut yang menjadi andalan jasa arsitektur lansekap ,tentu dapat kita tebak bahwa yang terjadi adalah perkembangan dari hulu kehilir untuk bisnis ini adalah segala sesuatu hal yang hanya berkaitan dengan bahan baku elemen taman (softmaterial /hardmaterial) dan dengan segala aksesorisnya, dan paling dikembangkan lagi dengan pemeliharaan (maintenance) dan pengadaan bahan baku (suplier) tersebut
Dan jika berhubungan dengan pengadaan material penunjang yang berkaitan dengan aspek teknologi maupun barang import , lahan bisnis yang dikembangkan akan bertemu dengan raksasa bisnis yang telah eksis, seperti pengadaan lampu, mesin pompa,sprinkler dsbnya.alhasil kita akan hanya sekedar mendapatkan komisi penjualan (agen distibutor )

Akibatnya akan segera diketahui, kita akan kalah bersaing dan akhirnya bisnis yang baru dimulai akan melemah karena kurangnya pengalaman dalam persaingan harga,mutu dan kwalitas dan kepalang basah maka kita akan beralih kearea bisnis yang lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan disiplin ilmu.

Bisnis konsultan dan kontraktor arsitektur lansekap terjebak dalam ruang lingkup yang telah menjadi paradigma opini masyarakat (public opinion) mengenai ilmu arsitektur lansekap ini yaitu ilmu pembuat taman , dan kita tidak lagi dalam posisi mengendalikan arah dan perkembangan bisnis yang kita geluti tetapi menjadi mainan daripada kerangka opini publik yang telah tercipta sengaja atau tidak sengaja.
Pasar telah terbentuk ,kita tidak lagi bertindak sebagai seorang arsitek lansekap tetapi lebih kepada sekedar perancang estetika dari suatu ruang dan kita terjebak didalamnya bagaikan tersangkut dalam sarang labah-labah, tak berdaya menunggu pemodal besar masuk dan akan merusak tatanan yang telah tercipta dan akhirnya mati.

Pertanyaan yang muncul, bagaimana dan kemana lagi bisnis arsitektur lansekap akan menuju?, Bagaimana agar mampu melangkah untuk menentukan ongkos dari jasa yang kita berikan?

Usaha yang terbaik bagi kita adalah dalam saat ekonomi yang sedang lemah bergerak ini dimana kita masih punya waktu untuk me-rekontruksi ulang persepsi kita yang salah dalam melihat ruang lingkup arsitektur lansekap dalam bisnis jasa di Indonesia.
Perlu pemikiran-pemikiran yang bermutu,berkualitas dan fokus dari para praktisi yang masih jujur-bersemangat-berkeahlian prima untuk berembug dan berdiskusi untuk menemukan solusi kreatif hal-hal apakah yang tersembunyi dalam arsitektur lansekap.

Dalam kalimat yang mungkin jauh dari kata sopan kita telah ‘buta’ dan tidak lagi kita melihat kedalaman bisnis lingkup arsitektur lansekap sebagaimana mestinya, tetapi kita hanya terpaku dengan ‘kacamata kuda’ yang terfokus untuk melihat dan gembira melihat banyaknya keanekaragaman istilah penamaan ruang lingkup jasa yang dapat diberikan tetapi wujud inti dari semua ruang lingkup pekerjaan itu adalah TAMAN ( bukan berarti kami mengesampingkan taman adalah bagian yang menyatu dengan jasa profesi lansekap)Yah betul taman sekali lagi taman dengan segala macam kalimat pengikatnya seperti taman resort ,taman rumah ,taman hotel ,taman kota,material taman dll,

Dan jikalau pun Taman adalah bagian dari arsitektur lansekap yang pada saat ini baru kita bisa garap sebagai lahan berprofesi, terlebih dahulu kita perlu mengetahui secara jelas ‘unique selling point’ dari jasa arsitek lansekap yang akan kita jual dipekerjaan taman tersebut apakah hanya sekedar menjual jasa menciptakan estetika dari sebuah tapak dengan cara dan teknik yang sama digunakan perangkai bunga hias dengan cara mengkreasi komposisi tanaman sehingga menjadi suatu rangkaian yang indah dan kemudian meletakan rangkaian taman tersebut disisi kolam hias atau pergola dsbnya, atau kita lagi berlomba-lomba menyatakan diri sebagai bagian tidak terpisahkan dengan ruang lingkup kerja profesi lain dan bertindak sebagai sekedar pemanis dari suatu bangunan.

Masih banyak yang dapat digali lebih dalam lagi dari hanya sekedar membuat gambar tempel berupa komposisi keindahan taman untuk sebuah ruang luar, profesi arsitek lansekap bukan sekedar perangko dari sebuah amplop surat yang akan dikirimkan, yang mana kesanggupannya hanya menempel pada ruang lingkup profesi lain.
Sudah menjadi tugas kita untuk tidak menyerah pada situasi yang salah kaprah ini dan sudah merupakan kewajiban bagi setiap insan arsitek lansekap lebih giat lagi untuk menyuarakan dan memperlihatkan keahlian dan kemampuan prima yang kita yang sesungguhnya Yang untuk itu kita harus melakukan proses studi selama 5 tahun di sebuah fakultas.

Tetapi tetap saja kita harus tetap memegang motto
STAND UP FOR OTHER DON’T GOSSIP –DON’T BITCH..!!!
and keep your ear to the ground


Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 08.10 | Permalink | 0 comments
Kamis, Desember 04, 2008
GREAT DESIGN TAKES TIME (and a little Secret Garden song )



when design speaks from the heart and communicates to the soul the results are MAGIC…!!! 
( Ilze jones)





Kemampuan untuk merancang sebuah ruang luar merupakan sebuah keahlian yang cukup sukar untuk di ajarkan,akan tetapi jika kemampuan dan keahlian merancang suatu hamparan lansekap telah dimiliki bukan tidak mungkin hal tersebut dapat di gunakan untuk menghasilkan sebuah hasil disain ruang lansekap yang luar biasa.
Hasil disain sebuah ruang luar/tapak lansekap yang baik dapat tercipta berkat bakat dengan sedikit waktu dan interprestasi ruang yang tepat, akan tetapi untuk sebuah hasil disain yang luar biasa..?semua itu belumlah cukup. 

Proses sebuah perencanaan tapak lansekap sangat membutuhkan rasa cinta.
Kita semua manusia berbakat dan mempunyai kelebihan masing-masing.Siapa yang tidak akan berusaha keras untuk dapat merancang sebuah tapak lansekap ?.


Dengan beberapa kali melakukan layout disain lansekap yang termasuk didalamnya proses survey, analisa tapak, kritikan dari rekan-rekan praktisi hingga kepelaksanaan perancangan serta kerja sedikit imajinasi dan perenungan kreatif, kita dapat secara cepat masuk kedalam pola proses perancangan yang rutin kadang kita lakukan.

Ruang sudah terbentuk, material lansekap telah tersusun dan komposisi warna sudah harmonis , maka terciptalah sebuah disain yang cantik.berkat pengalaman semua itu selesai dalam waktu cepat.Semua itu tidak merupakan sesuatu hal yang buruk tapi kadang kita terlalu terburu-buru untuk mencetak hasil rancangan dan bersiap memprersentasikan kehadapan klien sebelum rancangan cantik itu menjadi sebuah hasil rancangan yang LUARBIASA

Berdasarkan pengalaman, sering saya terburu-buru membawa beberapa kali hasil sebuah layout konsep kehadapan klien untuk proses asistensi,saya merasa puas dengan apa yang sudah jadi , dengan membuat berapa alternative disain saya mem presentasikan hasil rancangan lansekap tersebut kehadapan klien
Hasilnya: 
Klien sering menghadapi kendala untuk mengerti konsep yang tertuang dalam rancangan tersebut bahkan kadang bingung terhadap apa yang mereka inginkan dan seharusnya dapat tertuang dalam tapak tapi konsep disain yang saya presentasikan tidak berhasil memenuhi keinginan tersebut.

Ouch, it’s hurt.......

Suatu tak terduga, Ini bukan pertama kalinya seorang klien tidak menyukai hasil goresan konsep rancangan yang telah saya buat, sesuatu yang terburu-buru dan terlihat cantik belum tentu menjadi sebuah hasil rancangan diinginkan. Dan saya sendiri menyadari serta mengetahui bahwa konsep itu bukanlah hasil kemampuan terbaik yang saya miliki.

Sebuah solusi disain kadang telah terpikirkan oleh klien sama seperti apa yang ada di benak saya tapi mereka mempunyai kendala untuk menyampaikannya, mereka kadang menginginkan sebuah konsep ruang lansekap yang tropis tapi saya tidak hanya menyajikan dalam sebuah konsep lansekap tropis yang alami melainkan sebuah konsep ruang lansekap tropis yang radikal.sama tapi tidak serupa.

Maka untuk selanjutnya….Kembali ke laptop untuk melakukan revisi konsep ruang lansekap tersebut.

Cuma kali ini proses penuangan ide tidak saya lakukan dengan terburu-buru ,kita harus dapat meng-investasikan waktu dan rasa cinta pada proses perancangan sebuah konsep ruang lansekap dan memberikan kepada gambar tersebut sebuah ucapan “ I LOVE YOU MORE THAN ANYTHING”

Dan untuk membuat saya tidak terlupa akan elemen-elemen material didalam perancangan lansekap sebuah tapak perlu di iringi alunan musik ‘Secret Garden’ pada setiap goresan tangan.karena setiap benda akan dapat di modifikasi dan dirancang bagaikan sebuah benda yang cantik di muka bumi.

Bentukan ruang dapat menjadi lebih intim dan akomodatif, Komposisi warna akan dapat menjadi lebih tajam dan harmonis , latar belakang dapat menjadi lebih kontras serta segala material lansekap seakan beraroma dan beberapa elemen material lansekap dapat menjadi ‘stimulant’ bagi klien dalam meng-apresiasi ruang pada tapak. 

Dengan melakukan hal itu akan merubah sebuah konsep ruang lansekap yang BAIK menjadi LEBIH LUARBIASA
Dan bagian yang paling menarik,tidak ada batasan yang baru bagi kita untuk melakukan perubahan sebuah tapak menjadi ruang yang luarbiasa. 

Think outside the box! Do something fun, funky, freaked, fly, foolish or frunk.

Always remember
GREAT DESIGN TAKES TIME….!!!!

Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 01.32 | Permalink | 1 comments
Rabu, Desember 03, 2008
Keuntungan dapat diraih….Malang dapat di netralisir….
S
ering klien bertanya kepada saya,apa yang akan dia dapatkan jika menggunakan jasa seorang arsitek lansekap dan bagaimana  arsitek lansekap dapat lakukan pada sebuah tapak? Ada untungkah?Dan apakah jasa layanan tersebut merupakan 'Bonus' ?

Masih banyak masyarakat di Indonesia belum terbiasa menggunakan jasa seorang konsultan arsitek lansekap yang memiliki keahlian dan kemampuan dalam menangani disain ruang luar lahan kediamannya ataupun untuk disain ruang luar pada peruntukan-peruntukan fungsi komersial,publik atau fungsi-fungsi lainnya, sehingga kadang tarif jasa layanan seorang arsitek lansekap masih merupakan sebuah 'barang langka' dan paradigma seorang arsitek lansekap sekedar seorang penata taman sekaligus pelaksana konstruksi taman masih melekat erat dalam persepsi masyarakat, memang persepsi itu ada benarnya juga karena seorang arsitek lansekap (Landscape Architect) adalah seorang perancang ruang luar yang termasuk salah satu bagiannya adalah komposisi taman ( garden designer).

Akan tetapi,



jauh daripada itu peran seorang arsitek lansekap melampaui batas paradigma tersebut, keahlian seorang arsitek lansekap dapat terkait dengan pembangunan-pembangunan ruang luar, terlebih kini dengan gencar pentingnya aspek lingkungan pada setiap pembangunan maka peran arsitek lansekap menjadi penting dalam setiap proses perencanaan sebuah kawasan.

Secara umum ruang lingkup Peran Arsitek Lansekap adalah sbb:
(sumber : International Federation Of Landscape Architecture)

  1. Landscape / Enviromental assements
  2. Landscape Planning ( Master Planning, Site Planning, Urban Design, Tourism Planning, Environmental planning, Ecological Planning)
  3. Landscape Design
Berkenaan paradigma beda ruang lingkup kerja seorang Arsitek lansekap (Landscape Architect) dengan penata taman (Garden Designer) Dari situs www.gardenvisit.com/landscape_architecture dikatakan bahwa;

Landscape architects share with garden designers a concern for the planning and design of outdoor space. Like vets and doctors they have similar knowledge and similar skills. The key difference is that landscape architects normally work for public clients (business and governmental) while garden designers tend to work for homeowners. The range of work undertaken by landscape architects extends from detailed design to the broad scale landscape planning.

It includes:
• Urban design and urbanisation
• Landscape architecture for public parks,greenways and cycling
• Landscape planning for mineral extraction
• Landscape planning for foresty
• Landscape planning for transport
• Landscape planning for water storage
• Landscape planning for river reclamation
• Landscape planning for new towns and green towns



Kesalahan persepsi mengenai peran seorang arsitek lansekap dalam pembangunan sebuah ruang lansekap berimbas pada penentuan harga sebuah disain sering acapkali tarif jasa disain keahlian dan kemampuan seorang arsitek lansekap pada sebuah proyek tidak mendapatkan hak semestinya bahkan kadang di gabungkan dengan jasa pelaksana hal ini menjadi baku karena kesalahan akan interprestasi akan pernyataan ”design n built ’ atau rancang bangun.
Yang kadang diartikan bahwa bahwa seorang perancang lansekap sekaligus merupakan pelaksana proyek, maka hasil disain hanyalah merupakan sebuah ’bonus’ dari pelaksanaan pekerjaan tersebut.

Seperti contoh kecil pada sebuah proposal penawaran Rencana Anggaran Biaya (RAB) biaya pelaksanaan sebuah proyek lansekap hanya dicantumkan jasa pelaksanan yang berkisar 8 %- 10% sedangkan jasa disain tidak menjadi salah satu faktor yang dimasukan dalam penawaran tersebut.

Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Padahal dalam pekerjaan penataan Taman rumah (Garden Design) yang merupakan bagian dari pekarangan ,seorang arsitek lansekap akan melakukan langkah-langkah yang terperinci dan berkesinambungan,hal ini dilakukan untuk berhasilnya sebuah proses perencanaan ruang lansekap pekarangan tersebut.

Langkah-langkah tersebut adalah:
  1. Meng-intreprestasikan keinginan dan kebutuhan klien akan ruang luar di pekarangan rumahnya
  2. Meng-koleksi dan meng kompilasikan data yang berhubungan dan terkait erat bagi proses perencanaan (planning) dan perancangan (Design) ruang luar
  3. Membangun sebuah konsep disain ruang luar
  4. Mengajukan proposal berisikan sketsa-sketsa illustrative dan mempresentasikan kehadapan klien
  5. Melakukan perkiraan besarnya dana dan biaya yang akan dikeluarkan
  6. Membuat Rencana Pembangunan ruang lansekap(Landscape Development Plan / LDP ) dan kemungkinan haruslah mendapatkan persetujuan dari pemerintah daerah atau instansi yang terkait
  7. Memberikan gambar kerja dan teknik konstruksi berikut spesifikasi bahan dan material alami
  8. Membuat Bill of quantities ( BQ) 
  9. Jika proyek itu akan ditenderkan kepada kontraktor pelaksana maka,seorang arsitek wajib membuat dokumen tender dan manajemen kontrak pelaksanaan
  10. Melakukan inspeksi tapak selama pe implementasian disain ke pelaksanaan serta melakukan kontrol daripada material maupun penerapan bentuk disain.

Ke 10 langkah tersebut haruslah dilakukan secara terurut dan menjadi langkah yang strategis untuk mencapai sasaran dari disain yang akan menghasilkan :

  1. Keindahan estetika
  2. Ke-efektifan biaya pembangunan
  3. Ruang dapat berfungsi ecara ideal
  4. Tercipta alur aksebilitas ruang yang dinamis
  5. Tapak akan produktif 
  6. Keamanan bagi pemakai
  7. Pelestarian nilai-nilai budaya
  8. Lingkungan yang berkelanjutan (sustainable)

Untuk dapat mencapai suatu hasil
ruang luar yang harmonis dan selaras dengan lingkungan sekitar maka proses perencanaan ruang luar mutlak menjadi tugas dari seorang arsitek lansekap yang mengerti dan memahami kondisi ruang luar sebuah tapak dan bertanggungjawab akan hasil sebuah perencanaan.

Sudah seharusnyalah jasa disain/perencanaan ruang lansekap menjadi salah satu aspek penting dalam pembangunan sebuah tapak dan mendapatkan tarif sesuai dengan pelayanan keahlian yang di berikan.



Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 01.11 | Permalink | 0 comments
Senin, Desember 01, 2008
Formula FEE DESIGN Arsitek Lansekap


s
uatu proyek lansekap terkait erat dengan peran seorang arsitek lansekap yang profesional di bidangnya,hal ini dimulai dari mulai proses inventarisasi data hingga pengimplementasian hasil disain ke tapak.
Seorang arsitek lansekap yang telah berpengalaman dan menguasai bidang ini sangat menentukan nilai besaran fee yang harus di bayar oleh klien baik individual maupun perusahaan

Besaran tarif jasa seorang profesional arsitek lansekap di hitung berdasarkan formula perhitungan fee, untuk lebih memberikan informasi bagi klien tentang besaran nilai tersebut tidak ada salahnya di-era tranparasi ini formula perhitungan fee seorang arsitek lansekap dapat juga di ketahui oleh umum serta menjadi sarana informasi bagi para professional muda yang sedang bergelut dalam meningkatkan karier dan prestasi.
Sehingga klien maupun para arsitek lansekap muda dapat mengetahui cara penetapan formula harga jasa seorang arsitek lansekap

Formula cara perhitungan ini merupakan metoda dari hasil pengalaman kerja selama 15 tahun berpraktisi di dunia arsitektur lansekap dan telah saya coba terapkan untuk klien proyek ,baik klien dari dalam negeri maupun dari luar negeri.



5 (lima) faktor yang harus diperhatikan dan menjadi menjadi pertimbangan dalam menentukan besar fee jasa yang akan dikenakan kepada klien baik secara individual maupun perusahaan ada yaitu:

1. Tingkat kesulitan proyek ( level of difficulty)
Dengan memprediksi terlebih dahulu luasan area/ tapak serta status proyek yang akan masuk kedalam proses perencanaan serta kedudukan seorang arsitek lansekap dalam proyek tersebut.
Dalam klasifikasi tersebut akan dapat diberikan koefisien bilangan tingkat kesulitan

Kategori Group 1 : Kompleksitas Tinggi ( Kepala koordinator konsultan)
                                      ( Nilai koefisien 1.2)
Kategori Group 2 : Kompleksitas Sedang (Area materi buatan lebih luas daripada
                                       material alami)
                                       ( Nilai Koefisien 1.1)
Kategori Group 3 : Kompleksitas Rendah (Area material alami lebih luas daripada
                                       area material buatan/pabrikasi)
                                      (Nilai koefisien  1)
Kategori Group 4 : Renovasi / Perbaikan
                                      ( Nilai koefisien 0.8)

2.Jenis Pelayanan arsitektur lansekap yang diinginkan ( Basic Services)
Pelayanan jasa seorang arsitek lansekap dapat di jabarkan sebagai berikut:

Kategori 1 : a.konsultan dan advisor services
                        b.Jasa layanan khusus
                       c.Pelayanan jasa lainnya
Kategori 2 : Konsep perencanaan
Kategori 3 : Layanan gambar pembangunan lansekap ( Landscape Design Development
                         Atau LDP )
Kategori 4 :Gambar kerja ( working drawing) dan spesifikasi untuk tender dan
                        pelaksanaan konstruksi
Kategori 5 :Evaluasi hasil tender ( hardscape works,softscape work)
Kategori 6 :Administarsi Kontrak Dan supervise tapak
Kategori 7 :Pelayanan Tambahan

Atau dibagi berdasarkan paket pelayanan seperti sbb:

On Completion of
 Conceptual Design Stage ( 15% )

On completion of
 Design Development Stage ( 30% )

On completion of
 Working drawings ( 20% )

On completion of
 Technical Specification and tender Documentation stage ( 15% )

On completion of
 Management Implementation management stage
 (Based on ‘ periodic inspection’level of service) ( 20%)

3.Type Of Project
Dalam tahap ini adalah mengetahui sasaran dari 'goal'proyek sehingga dapat memasukan kedalam klasifikasi tipe proyek, masing-masing perusahaan konsultan dan konsultan individual biasanya mempunyai klasifikasi yang berbeda sesuai dengan bidang keahlian spesifik yang mereka kuasai.

Untuk hal ini kita dapat melihat contoh yang telah dikeluarkan oleh ILAM (organisasi profesi arsitek lansekap di Malaysia)
Seperti dibawah ini :

Kategori 1 ( co-efficient 1.2)
Landscape Of exceptional character and complexity:
( Private / residential Garden), Hotels,Theme parks,Resort,Golf courses,Marina/waterfronts,Civic centre ( Art galleries, museum,theatres),Zoological garden,Botanical garden, Port/harbours/maritims terminal,Interior landscape/Rooftop garden,Monumen compounds/Monuments,Palaces)


Kategori 2 ( co-efficients 1.1)
Landscape of average complexity, requiring a moderate degree of design and detailing
( Commercial complexes,Landscape upgrading,Township development,Camping/recreational grounds,Religious institutions,Educational institutions,Sport complexes,Land reclamations, club house, airports,hospitals )


Kategori 3 ( co-efficient 1.0)
Highway / Roadside planting, Industrial/factories. Cemeteries,Re-forestation,Petrol station

4.Waktu ( Time of Schedule)
Setelah mengetahui bobot dari ke 3 (tiga) faktor tersebut maka kita akan bisa mengetahui secara rinci umur dari proyek tersebut dan lamanya waktu yang terpakai dalam proses perencanaan maupun pelaksanaan proyek tersebut

Untuk penentuan biaya rata-rata untuk waktu seorang arsitek lansekap ini relatif sesuai dengan lamanya berpraktisi di bidang arsitektur lansekap maupun keahlian-keahlian khusus yang mereka miliki.dan biasanya organisasi profesi seperti ILAI ( Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia) telah membuat daftar rinci harga waktu seorang professional arsitek lansekap.
Akan tetapi dapat juga masing-masing konsultan menghitung biaya tariff per jam untuk konsultan individu maupun perusahaan konsultan.
Untuk perhitungan jasa konsultan individu akan saya jelaskan dalam artikel yang lainnya.

5.Biaya Operasional ( overhead cost)
Merupakan biaya pengeluaran yang akan terkait maupun keluar dalam pekerjaan proyek
Seperti Biaya tenaga asisten ( supporting staff), Biaya transporatsi lokal, biaya akomodasi (jika proyek diluar kota) ,Biaya percetakan gambar, Biaya presentasi Dll


Formula perhitungan fee

Fd= ( G X ( R X T) X P ) + BO

Dimana ;

Fd = Fee design
G = Kategori tingkat kesulitan
P = Tipe Proyek
R = Rate rata-rata perjam
T = Time ( jangka waktu yang diperlukan)
BO = Biaya operasional ( Overhead proyek )


Contoh:
Diketahui sebuah projek perencanaan lansekap Hotel resort, dimana pekerjaan hardscape lebih banyak daripada softscape dan jenis pelayanan yang diinginkan adalah hanya sampai Design Development Phase.
Maka dari pekerjaan tersebut akan didapatkan perincian time schedule selama 21 hari kerja yang berarti 28 x 6 jam = 126 jam
Serta diketahui harga perjam jasa seorang arsitek lansekap yang berpengalaman 3-5 tahun sebesar Rp 185.000,-

Maka biaya yang akan di kenakan adalah

1.1 x ( 126 jam x 185.000) x 1.2 = Rp 30.769.200.- + Biaya Operasional


Kemudian untuk dijadikan harga penawaran maka harga tersebut ditambah kan dengan biaya operasional ( BO) yang total jumlah biaya sangat tergantung dengan letak proyek tersebut ( didalam / diluar kota)  maupun hasil keluaran yang diinginkan oleh klien, yang biasanya tidak dapat dirumuskan dalam satuan yang tetap.
Klien kadang hanya meminta presentasi dalam bentuk hasil hardcopy akan tetapi ada klien yang meminta presentasi dalam bentuk animasi, maka biaya operasional akan berbeda pada masing-masing proyek tersebut.






Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 01.45 | Permalink | 8 comments