Kamis, Oktober 07, 2010
Parno sesaat

T
ersentak seketika, manakala sebuah email dari pembaca blog di smartlandscape.blogspot.com menanyakan salah satu contoh konkrit mengenai permasalahan kota yang dapat dan telah di selesaikan dengan metode pendekatan arsitektur lansekap.

Jujur, pertanyaan tersebut dengan meminta contoh konkrit membuat saya sebagai salah satu praktisi arsitektur lansekap yang berkecimpung selama hampir 2 dasawarsa menjadi terhenyak dan membuat jari-jari kaku sesaat untuk membalas surat elektronik tersebut.sekelebat daya pikir seakan ‘parno’ (dibaca; paranoid) menjelajahi ruang memory dalam ingatan untuk menemukan salah satu contoh konkrit karya arsitektur lansekap yang sudah dapat menjawab sebuah permasalahan kota di Indonesia.

Setelah merenung beberapa hari dengan berusaha membuka data-data sejarah ke-arsitekturan lansekap di Indonesia,kembali mengenang ke-era tahun 80-an memang penulis menjadi saksi bagi keberhasilan para mahasiswa arsitektur lansekap FAL-USAKTI menjuarai berbagai perlombaan sayembara dunia bahkan kadang dalam satu sayembara yang diadakan oleh IFLA para peserta lomba menjadi 3 besar juara . Perencanaan arsitektur lansekap dengan thema-thema solusi permasalahan kota khususnya daerah aliran sungai dengan judul “ Ciliwung with thousand face ” dimana para peserta lomba berhak atas juara dunia untuk mengatasi permasalahan kota dengan konsep-konsep bidang ilmu arsitektur lansekap, demikian pula perencanaan lansekap pada kawasan alun-alun kota yaitu kawasan Monumen Nasional (MONAS) dengan judul “A Needle in the Green Carpet” yang mengetengahkan konsep arsitektur lansekap bagi kebutuhan permasalahan kota terhadap ruang hijau terbuka dan citra kota



dan satu lagi sebuah perencanaan lansekap bagi kawasan TPA sampah perkotaan di cilincing yang judulnya penulis lupa, tapi pada masa itu banyak topik-topik permasalahan kota menjadi thema sentral bagi para peserta sayembara dunia tersebut seperti “Malioboro, terrace of jogjakarta” yang mengeluarkan konsep lansekap bagi pelestarian jalan utama malioboro sebagai ruang heritage yang perlu di lestarikan, perencanaan kawasan Pulau Ondrust,Perencanaan Kawasan Candi PULAKI di bali barat dll, akan tetapi sayangnya semua hasil sayembara yang telah diakui konsepnya secara internasional tersebut hanya dijadikan sebuah ‘piala kebanggaan’ tergantung dan berdebu ,tanpa ada satupun hasil jerih payah kerja para mahasiswa arsitektur lansekap tersebut dijadikan bundel proposal konsep bidang ke-Arsitektur-an Lansekap yang dapat diimplementasikan dalam karya nyata kepada pemerintah pusat, sehingga kini jejak-jejak langkah keberhasilan konsep-konsep arsitektur lansekap kelas dunia itu tidak pernah terlacak.

Dan sejauh ingatan belum ada sebuah hasil karya pribadi penulis selama berpraktisi yang merupakan karya konkrit sebagai salah satu solusi bagi permasalahan kota. Paling pada sekitar tahun 90-an penulis ikut terlibat dalam sebuah proyek di bantaran kali kawasan pintu air manggarai untuk merencanakan program pemerintah merevitalisasi fasilitas MCK bagi pemukim bantaran kali tersebut dan pada tahun yang sama penulis hanya sekedar menjadi 3 besar juara bagi penataan kawasan ruang terbuka bagi proyek pemukiman kumuh padat kumuh miskin dikawasan ciledug dan berhak atas hadiah uang dan piagam dari gubernur DKI sutiyoso ketika itu. Pada sisi ruang dan waktu yang lain apakah bisa di bilang sebuah karya arsitektur lansekap yang merupakan contoh konkrit peran arsitektur lansekap jika hanya berkarya melalui ide hingga konsep merevitalisasi sebuah elemen bersejarah kota kawasan bundaran HI. Selebihnya karya arsitektur lansekap yang jika bisa dianggap sebagai contoh konkrit bagi permasalah lingkungan adalah proyek perencanaan lansekap pasca reklamasi penambangan pasir di pulau sebaik sekitar era tahun 2000-an.

Ternyata susah untuk menemukan jawaban atas pertanyaan seorang blogger tersebut dengan memberikan contoh konkrit atau mungkin blogger tersebut bertanya pada tempat yang salah…? , seharusnya dia bertanya pada Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia sebuah badan organisasi profesi yang menjadi titik sentral pusat data informasi keterlibatan dan peran arsitek lansekap selama ini dalam pembangunan nasional, atau mungkin penulis selama berpraktisi terlalu fokus pada bidang perencanaan kawasan resort dan jauh daripada perencanaan dalam skala kota/urban ,sehingga agak susah untuk memberikan contoh-contoh karya lansekap yang berhubungan dengan permasalahan perkotaan…?, Atau mungkin jika ditanyakan apakah seorang arsitektur lansekap pernah bekerjasama dengan tim lain untuk menemukan jawaban solusi bagi permasalahan kota, itu lebih mudah untuk mencari contoh konkritnya..?, Atau yang paling ekstrem, ini adalah kesalahan pemerintah tidak pernah memberikan ruang bagi praktisi arsitek lansekap untuk berperan tunggal dalam mencari jawaban solusi bagi permasalahan perkotaan.. !

akan tetapi jawaban tersebut hanya sebagai alasan yang dibuat-buat saja, sudah sepatutnya seorang praktisi Arsitektur Lansekap yang telah berkecimpung hampir 2 dasawarsa di bumi nusantara ini paling tidak bisa memberikan 2 atau 3 contoh konkrit (tidak usah banyak) mengenai karya arsitek lansekap yang merupakan contoh konkrit solusi akan permasalahan kota yang dilakukan dengan pendekatan bidang ilmu arsitektur lansekap tanpa embel-embel “Design by Team” or “Design by Individual”-kah?.


Karya arsitektur lansekap nyaris tidak terdengar…..alangkah sayangnya

Apa mau dikata…!! Ini Indonesia Bung…!!

Merdeka atau Mati….!!!


 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 17.44 | Permalink |


1 Comments:


At 12.18, Blogger Lailya Lay's BLOG

berapi-api tuh.. great