Sabtu, Mei 15, 2010
Ilmu dan seni, seteru atau sekutu
P
ekerjaan bernilai seni mengharuskan seorang Arsitek Lansekap menguasai proses kerja dimana pada tahapan ini memerlukan pemanfaatan diri secara konsisten dan sadar, nilai seni adalah kunci menuju Semangat dan Komitmen.
Harapan untuk membawa semangat dan komitmen keseluruh kehidupan praktisi Arsitek Lansekap berguna untuk mengstimulasikan aspek keberanian dan kebebasan untuk menjadikan kehidupan kerja berpraktisi lebih menyenangkan, berhasil dan produktif.

Definisi dan pengertian disiplin ilmu Arsitektur Lansekap mengandung 2 paradigma pendekatan penting dalam merencanakan sebuah bentukan ruang luar yang berguna bagi kesejahteraan manusia yaitu Ilmu dan Seni.
Seni menyangkut Visi, Energi, Roh dan Jiwa sedangkan Ilmu pengetahuan berkaitan dengan Teknik dan Persoalan Rasional.

Seorang arsitek lansekap yang baik ,mutlak menyatukan 2 ’ saudara’ yang berjauhan ini yaitu Ilmu dan Seni, Keduanya adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan, keduanya berusaha mengukir suatu pandangan tentang dunia di sekitar kita.
Kecenderungan untuk memandang keduanya sebagai entesitas yang terpisah dalam kehidupan praktisi maupun akademis arsitektur lansekap telah membuat kita terjebak untuk membenamkan diri dalam Ilmu Pengetahuan dan kehilangan kepuasan yang di berikan oleh nilai seni.




Selama ini masih banyak para praktisi Arsitek Lansekap mengganggap seni sebagai kesenangan, dekoratif, sesuatu sclupture yang diletakan pada area proyek bentukan lansekap, batu pahatan yang tergantung pada dinding sebuah taman, alunan musik yang mengiringi makan malam yang syahdu, sesuatu yang kita lihat di layar bioskop, sesuatu diluar pekerjaan. Suatu produk bernilai seni jika buatannya bagus atau pekerjaan yang diselesaikan dengan baik adalah Seni.

Malah kadang Seni dianggap tidak berguna, namun menyenangkan, seni bukan sesuatu yang kita kerjakan, melainkan sesuatu yang kita dapat nikmati.

Dan secara terpisah melihat Ilmu pengetahuan yang dapat menghasilkan ide-ide yang hebat, menghindarkan kita dari banyak kerja fisik, memberikan kenyaman dan kemudahan, serta menciptakan produk-produk lingkungan yang menarik. Namun pengetahuan itu tidak membawa kita lebih dekat ke kehidupan batin kita ataupun dunia alamiah dimana kita hidup.Oleh karena itu kita merasa merencanakan sebuah bentuk arsitektur lansekap dengan komputer itu lebih mudah dan menemukan keselarasan dan harmonisasi dengan lingkungan dalam rancangan itu susah.

Kita lebih banyak berhubungan dengan ide-ide tentang bagaimana sebuah Perencanaan Ruang Luar dapat berfungsi, ide tentang kualitas dan layanan, ide tentang manajemen pemeliharaan lingkungan yang bertanggungjawab , kita mengembangkan dan membeli ide-ide, meskipun ditunjang dengan teknologi lalu biasanya keberhasilan sebuah karya perencanaan tampaknya ada lebih banyak cerita kegagalan di bandingkan kisah-kisah sukses



Proses budaya ini menciptakan dua konsekwensi; Pertama, kerja dipandang sebagai sesuatu yang harus dilakukan untuk bertahan hidup dan berprestasi, sementara seni dipandang sebagai kesenangan. Kedua, imbalan kerja menjadi lebih ekstrinsik dari intrinsik.
Sehingga sebuah karya cipta bentukan Arsitektur Lansekap akan lahir tidak lagi dari kandungan semangat kebebasan melainkan merupakan tuntutan dari Ruang produksi atau atas perintah manajer, hierarki atau birokrasi, yang alhasil adanya nilai seni menjadi mati dengan kematian yang menggenaskan.

Robert henri ,menulis,” Seni adalah hasil dari penguasaan dasar-dasar alam, semnangat hidup, kekuatan yang membangun, rahasia pertumbuhan, pemahaman sejati tentang peran relatif benda-benda, aturan, keseimbangan” (Henri,robert.The Art Spirit. Newyork:harper&Row,1084.)

Seharusnya kita memahami bahwa seni adalah ”pelaksanaan’ ini berarti proses dan juga produk.sukacita dari pekerjaan bernilai seni muncul dari pelaksanaannya.Produk sang arsitek seanggun apapun sebagus apapun pasarnya, bagaimana menguntungkannya adalah buah dari suatu proses yang diciptakan sang arsitek.

Seorang Arsitek Lansekap yang menyadari bahwa dalam proses kreatifnya tidak hanya mengatur atau menata tata letak benda-benda tapi justru membingkai kehidupan keteraturan ekosistem dalam bentukan ruang luarnya ,akan menimbulkan kesadaran yang membuat seorang arsitek lansekap memandang pekerjaannya dengan cara baru yang lebih menghasilkan, persepsi barunya telah menyingkapkan kebesaran dirinya.

Kita dapat berjanji kepada diri sendiri untuk mencapai tujuan mulia dan visi-visi yang tinggi dalam kehidupan berpraktisi serta menerima teknik pada masa ini, namun sebelum kita bisa melibatkan diri penuh citra rasa seni dengan pekerjaan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan visi kita, tujuan kita tetap tidak akan terpenuhi dan teknik-teknik ilmu pengetahuan akan menggagalkan kita.

Sebagaimana seorang Arsitek Lansekap menciptakan karya, Karya menciptakan Arsitek Lansekap, Jadi layaklah seorang Arsitek Lansekap mengakui apa yang sedang di ciptakan dan menemui apa yang sedang berjuang untuk di ciptakan. Imbalan untuk pekerjaan bernilai seni ada dalam pelaksanaannya.

(sumber;Artful Work, Dick Richards,1995)



 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 12.21 | Permalink |


0 Comments: