Jumat, Juli 03, 2009
Sang Waktu Bernostalgia


B
eberapa hari ini Sang waktu mengajak berjalan menelusuri kenangan dimasa lalu dan sang waktu berterima kasih karena adanya ’facebook’ maka sang waktu kembali menjadi barang yang tak ternilai harganya, ’facebook’ merubah kejadian masa lalu menjadi indah untuk di kenang, teman lama dapat di jumpai lagi dan saling ber nostalgia dan cerita yang lucu antara suka dan duka saat waktu kuliah kembali mengisi ruang kehidupan seakan baru kemarin terjadi.
dimana terasa betul bahwa yang abadi di dunia ini hanyalah perubahan , perubahan dari warna rambut yang dulunya gondrong kehitaman kini telah berwarna kebijaksanaan , perubahan bentuk tubuh yang dahulunya langsing dan kini menjadi langsung penuh ke arifan ,yang dahulunya atletis kini berubah menjadi ber bobot kewibawaan,

Sejenak Sang waktu mengajak beranjang-sana ke ruang organisasi profesi arsitek lansekap melihat kerinduan akan masa-masa lalu yang terasa indah untuk di dongengkan kembali, Ruang saat kelahiran organisasi profesi IALI (organisasi Arsitek Lansekap Indonesia ) di bulan februari 1978 ,Ruang dimana Indonesia menjadi Tuan Rumah Kongres IFLA (Organisasi Arsitek Lansekap dunia) di Bali. Dan Sang waktu memperlihatkan perubahan dari wajah organisasi profesi yang dahulunya terlihat eksklusif kini menjadi demikian ramah menjadi tuan rumah yang baik, dan wajah pendidikan arsitektur lansekap yang kini telah membuka diri untuk mengoreksi dan di koreksi demi tantangan profesi arsitek lansekap dimasa depan.
Sekilas tampak Sang waktu tersenyum manis melihat semua itu

Sang waktu seakan ingin menyadarkan dan mengingatkan betapa sia-sianya pohon yang telah tumbuh dengan kerindangan hijau dan memakan waktu yang panjang dengan mudahnya di tebang dalam seketika , sebidang ruang terbuka hijau yang ditetapkan dengan memakan waktu yang demikian panjang dalam berbagai diskusi dan seminar para pakar dipaksa untuk menjadi tempat berdirinya bangunan-bangunan beton, Sia-sianya ilmu yang dituntut selama 5 Tahun perkuliahan dengan tidak aktifnya para lulusan arsitek lansekap untuk berprofesi. Sia-sianya UU jasa konstruksi yang tidak berfungsi secara optimal bagi para kalangan praktisi karena pandangan pesimis dan pasif dalam ber-organisasi.
Sang waktu juga mengingatkan akan tantangan dan kendala profesi arsitek lansekap dimasa depan yang diwarnai demikian pesatnya kemajuan teknologi.

Sambil tersenyum sinis Sang waktu berbisik:” jangan pernah menyia-siakan waktu menjadi barang yang tak berharga,sebuah kejayaan dan kesejahteraan hanya akan tercapai jika pintar mempergunakan waktu”

Kemajuan dan keaktifan keahlian arsitek lansekap di kancah pembangunan tidak hanya dengan mudah dan dengan gampang di gantungkan di pundak para pejabat organisasi untuk menjadikan semua itu nyata karena sang waktu bukanlah milik mereka semata,sang waktu terikat erat pada pundak setiap individu para praktisi arsitek lansekap, merupakan sebuah beban tanggungjawab bagi setiap insan praktisi untuk ikut berperan dan berpartisipasi meningkatkan kinerja keprofesionalan para arsitek lansekap , merupakan sebuah kerugian besar untuk hanya sekedar menunggu tanpa ikut berperanserta secara aktif..

Perlu disadari dan di pahami bahwa waktu yang berlalu tidak akan kembali keruang dalam bentuk seperti sediakala, sang waktu akan tetap berjalan membawa sebuah perubahan baik atau buruk bagi setiap individu arsitek lansekap.Bagi yang melihat waktu merupakan sebuah investasi maka dapat di pastikan ia akan mengalami sebuah perubahan yang baik secara individu maupun secara organisasi akan terbalik jika kehidupan berprofesi menyepelekan waktu maka tanpa disadari perubahan yang terjadi tidaklah seperti yang di kehendaki.

Sang waktu kemudian mengajak keruang masa depan dimana terdapat 2 ruang pararel yang akan terjadi bila kita salah melihat peran sang waktu dalam kehidupan berorganisasi. ada satu ruang dimana sang waktu bukanlah merupakan barang yang berharga, yang tercipta adalah sebuah ruang dimana para arsitek lansekap menjadi sebuah profesi yang akan terhilang dari kehidupan masyarakat dan akan selalu menjadi profesi ’tempelan’ bagaikan perangko pada setiap pembangunan
Diruang yang lain jika sang waktu merupakan aset investasi yang berharga maka akan terciptalah sebuah ruang dimana para praktisi arsitek lansekap menjadi lebih profesional dan menjadi ’panglima’ bagi pembangunan berwawasan berkelanjutan.

Sang waktu mengingatkan perlunya waktu untuk saling bekerjasama, waktu untuk ikut berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan organisasi profesi , sang waktu tidak akan berkompromi dengan sifat keras kepala, sifat arogan dan tidak akan terbeli oleh kelimpahan materialisme, Sang waktu akan gembira dan berarti jika kebersamaan untuk satu tujuan dalam cita-cita peningkatan ke profesionalisme arsitek lansekap indonesia menjadi misi abadi setiap insan praktisi arsitek lansekap.

Bukan saat yang tepat untuk sekedar berpangku tangan dan menunggu keajaiban datang
Terciptanya sebuah ruang dimana arsitek lansekap akan dihargai dan mencapai kejayaan
hanya dengan meletakan semua beban di pundak setiap pengurus organisasi arsitek lansekap ataupun pundak para pendidik ilmu arsitektur lansekap.itu hanyalah sebuah gambaran mimpi semu yang terasa nyaman dalam buaian.dan bila matahari pagi kembali bersinar yang terbit hanyalah penyesalan.

Sudah waktunya semua para praktisi arsitek lansekap menginvestasikan waktu pribadi bagi kehidupan arsitektur lansekap di Indonesia,ikut berpartisipasi dan berperan aktif dalam memberikan masukan kreatif ,pandangan inovatif dan ide-ide brilian bagi kemajuan organisasi keprofesian arsitek lansekap.
Sudah waktunya semua para praktisi arsitek lansekap untuk peduli menyingsingkan lengan baju, saling rapat dalam barisan mengejar ketertinggalan.

Diakhir perjumpaan sang waktu berujar : ” semua ini hanya merupakan pilihan dan pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya sehingga akan berbuah baik”






 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 17.51 | Permalink |


0 Comments: