Minggu, Januari 30, 2011
Balada Arsitektur lansekap


P
erkembangan profesi arsitek lansekap di Indonesia belum menjadi ‘tuan rumah’ di negeri sendiri,hal ini dapat terlihat dari berbagai proyek perencanaan lansekap dalam skala makro nasional ataupun internasional masih minim dan boleh dikatakan sepi akan peran aktif para arsitek lansekap produk nasional .Hal ini sangat disayangkan jika ditinjau dari sejak awal kelahirannya di negeri Indonesia di tahun 1977-an hingga kini di era global warming tahun 2010, yang berarti ilmu arsiktektur lansekap ini sudah berkembang di Indonesia selama 33 tahun dan dalam ukuran umur manusia boleh dikatakan dalam usia 33 tahun ini merupakan usia masa produktif untuk berkarya karena kedewasaan dan pemahaman disertai luasnya wawasan sudah terpenuhi.

Disisi lain berbagai merek dagang konsultan arsitektur lansekap perusahaan asing telah hampir mendominasi setiap proyek perencanaan lansekap di Indonesia tercinta, di beberapa provinsi seperti Jakarta,Bali,Kepulauan Riau maupun daerah lainnya telah menjamur tumbuhnya perusahaan-perusahaan asing konsultan lansekap baik secara fisik langsung berdomisili dinegeri tercinta ataupun hanya merupakan perwakilan cabang.

Keunggulan para konsultan asing baik dari sisi marketing maupun kemampuan meyakinkan klien boleh dikatakan telah berhasil menyingkirkan para kandidat konsultan lokal.dalam setiap kompetisi tender perencanaan ,malah kadang tidak harus lewat tender lebih banyak lewat penunjukan oleh karena sebagai Negara donor dana pembangunan mereka seolah tidak rela meminjamkan dana tanpa penyertaan dukungan dari konsultan ataupun kontraktor dari negarasa asal. aspek itu terlalu panjang untuk dibahas dan kadang hanya pada level tertentu hal ini bisa di rundingkan ,jadi lebih baik fokus keaspek realita dimana alih-alih untuk tukar teknologi yang terjadi adalah usaha sekedar untuk mengintip keunggulan konsultan asing dalam beraksi di setiap pembangunan proyek arsitektur lansekap



Kemampuan menciptakan konsep perencanaan yang berjalan sejajar pararel dengan teknologi rekayasa lingkungan, meningkatkan daya saing sang ahli lansekap asing untuk meyakinkan klien setuju akan ide inovatif perlu juga di acungin jempol. Kemampuan manajerial proses perencanaan telah lebih maju dalam sisi teknologi maupun profesiolisme keilmuan sehingga pertangung-jawaban kualitas konstruksi lansekap yang terbangun tidak dapat lagi dipungkiri.

Apakah sudah demikian terpuruknya SDM konsultan arsitek lansekap lokal sehingga kemampuan untuk mengolah ruang luar sebuah tapak lebih di percayai kemampuan dan keahlian para konsultan asing daripada kemampuan anak negeri ,meskipun pada kenyataannya tenaga ahli pendukung yang bekerja di belakang meja dan lapangan banyak dilakukan oleh para arsitek lansekap Indonesia.? Sebuah kondisi paradoks dimana para arsitek lansekap banyak juga terserap bekerja pada perusahaan-perusahaan konsultan asing ini disisi lain mandulnya perusahaan konsultan lansekap lokal mendapatkan job-job proyek pekerjaan perencanaan sehingga seakan menegaskan kemampuan arsitek local masih harus dipimpin oleh para arsitek lansekap import.

Hal lain budaya para konsultan luar bekerja sesuai keahlian dan kemampuan ini diluar jangkauan para arsitek lokal yang masih mengandalkan proses pemasaran jasa melalui kedekatan dengan klien ataupun sistim oneksi.

DIMENSI INOVASI
Perlu usaha untuk melakukan persiapan perbaikan dalam tubuh keprofesian arsitektur lansekap ditanah air dengan kerangka inovasi perusahaan konstruksi yang dikemukan dalam “101 creative problem solving techniques” (1994) (sumber majalah konstruksi no395 nov 2010)

Higgins menyatakan bahwa inovasi bisnis jasa konstruksi bisa dikategorikan dalam empat (4) dimensi yaitu Inovasi Produk, Inovasi Proses (pengerjaan),Inovasi Pemasaran dan Inovasi manajemen.

Inovasi Produk
Inovasi produk diperlukan agar produk atau hasil dari pengerjaan proyek konstruksi mempunyai kualitas yang tinggi, inovasi produksi tentu saja menuntut penyesuaian terhadap berbagai teknologi rekayasa terbaru dan canggih.

Inovasi Proses
Inovasi proses atau pengerjaan berkaitan dengan metode konstruksi yang digunakan termasuk didalamnya berbagai prhitungan ekonomis sebuah proyek.karena itu yang mungkin patut diperhatikan adalah upaya menjalin kerjasama yang sinergis dengan mengandeng Quatity surveyor ( QS) yang benar handal dan teruji. QS seperti diketahui bersama adalah pakar ekonomi konstruksi yang mampu melakukan kalkulasi secara tepat dengan memperhitungkan berbagai aspek ekonomi selama proses konstruksi berlangsung dengan memakai QS yang professional, segala macam aspek dalam proses konstruksi, mulai dari biaya hingga manajemen bisa ditangani dengan baik .Para pengusaha konstruksipun akan dapat terhindar dari potensi kerugian karena nilai terbaik dari setiap uang yang dikucurkan (best value for money) benar-benar dicermati selama proses pengerjaan proyek berlangsung.

Inovasi Pemasaran
Inovasi pemasaran berkaitan dengan perencanaan yang matang untuk memenuhi tuntutan yang diinginkan konsumen, termasuk didalamnya melakukan promosi sehingga para konsumen tetap setia memakai jasa perusahaan. Hal ini berkaitan dengan inovasi pengerjaan karena berhubungan dengan penentuan harga (pricing) yang akan ditawarkan ke konsumen.

Inovasi Manajemen
Dan yang terakhir adalah Inovasi manajemen berhubungan erat dengan bagaimana kerangka kerja antar divisi atau departemen dalam perusajahan konstruksi dikelola dengan baik .Hal ini berkaitan dengamn disain kelembagaan yang coba dibangun,baik didalam perusahaan naupun asosiasi keprofesian, misalnya asosiasi melopori penerbitan PUSAT informasi konstruksi yang berguna bagi angota.

Juga perlu diusulkan kepada pemerintah pusat untuk membuat sebuah regulasi yang menjadikan para pelaku arsitek lansekap setara sehingga penerima tugas tidak menjadi lebih rendah kedudukannya dari pemberi tugas.

Balada arsitek lansekap tidak bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri merupakan sebuah kemunduran prestasi anak bangsa dalam mengamalkan ilmunya.




 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 20.59 | Permalink |


0 Comments: