Minggu, Januari 30, 2011
UTOPIA “SMART GROWTH GREEN CITY DEVOLOPMENT”


T
erbangun dari mimpi dan mengingat kembali tentang terealisasinya sebuah bentukan bentang alam wilayah perkotaan dengan totalitas kehidupan Jakarta yang nantinya setara dengan kota-kota besar didunia yaitu terpadunya unsur-unsur lingkungan hidup yang selaras dengan topografinya, infrastruktur yang sistimatik, kemitraan sosial ekonomi antar wilayah, penataan wilayah hunian yang apik, pelestarian budaya dengan rujukan historiografi yang akurat.

Sebuah mimpi yang hanya bisa terbeli lewat seminar kaum profesi perencana mengenai perkotaan dan kali ini mimpi itu kembali terbeli lewat seminar “smart green growth city development” yang diadakan Fakultas Arsitektur Lansekap dan Teknologi Lingkungan menjelang Lustrum Trisakti ke X di isi oleh beberapa pembicara yang merupakan pakar perkotaan dengan latarbelakang S2 dan S3 membawa pesan dan semangat akan gerakan perubahan untuk memulai paradigm baru dalam merencana dan menata sebuah kota berwawasan lingkungan yang berkelanjutan.

Semangat untuk merubah cara pandang dan coba melihat dalam perspektif paradigm yang berbeda yang dulunya berdasarkan predict dan provide kini berubah menjadi debate dan decide, yang dulunya technocrate birokrasi kini menjadi demokrasi partisipasi, yang dulunya expert solution kijni menjadi stakeholder solution dan yang dulunya imitative kini menjadi innovative dan pedekatan product oriented menjadi process oriented sebuah perpindahan dari kwardran special economic zone menuju kwardan smart green dan ecofriendly city.

Megapolitan adalah mimpi terbesar Jakarta, mimpi ini terwujud dengan merelakan “kampong Besar” digusur untuk pendirian gedung-gedung bertingkat, wilayah-wilayah pertanian dan persawahan di relakan untuk menjadi alam baru kediaman para penghuni modern dan jalur-jalur hijau tempat berdiamnya secara apik habitat ekosistem direlakan untuk menjadi landasan tiang-tiang pondasi monorel MASS trapid, beribu-ribu luas area yang semula dicadangkan sebagai area resapan air menjadi pusat-pusat bisnis yang merekaya skema kehidupan sosial masyarakat dipaksa untuk berubah menjadi sangat konsumtif dan cenderung transaksional yang menjadi pola tetap konsumeristrik, hedonism dan korupsi.

Masayarakat yangmasih lekat dengan aspek tardisionilsme dan primordialisme dipaksa untuk menuju jaman yang lebih modern mengacu kepada globalisme yang kadang berdialek gombalisme.

“smart green growth city development” merupakan idiom kata yang setara jika di sejajarkan letaknya dengan kalimat pembangunan berwawasan lingkungan, tetapi semangat modern yang berkarakter egosentris yang kuat akan mimpi tentang peradabana yang lebih maju menjadikan seakan ingin menipu diri sendiri dengan dibalut kalimat yang kadang susah untuk di mengerti oleh masyarakat awam dan kadang dikalangan para pakar malah bisa memicu perdebatan tentang definisi arti dan makna.

Salah satu contoh kawasan perumahan pada seminar yang dijadikan contoh kasus tentang bagaimana sebuah perencanana lansekap yang baik ternyata hanya mampu menjawab akan tuntutan segi kapitalisme yang berbau liberalisasi perdagangan property sebagai sebuah mesin industry ekonomi.

Masih tidak terlalu dekat dengan semangat memberikan sebuah hunian dengan lingkungan yang dapat mencerdaskan masyarakat akan arti pentingan sebuah lingkungan dan terlalu jauh untuk dapat dijadikan sebuah refensei ruang produk arsitektur lansekap sesungguhnya.

Akan tetapi mimpi telah terbeli dengan tergantikan dengan sebuah piagam seminar yang bernilai ‘cum’ untuk dijadikan sebagai komoditi alat tukar kompetensi kualitas dan keahlian seorang arsitektur lansekap terasa pahit untuk ditelan dan dipahami.




 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 21.00 | Permalink |


0 Comments: