Kamis, Mei 29, 2025
Ngopi Bareng Bill Bensley: Belajar Desain yang Penuh Cerita dan Warna

 


Pernah nggak, kamu masuk ke sebuah hotel atau resort dan langsung merasa seperti lagi masuk ke dunia lain? Bukan cuma cantik, tapi penuh kejutan, warna, dan cerita di setiap ruang sudutnya. Nah, itu salah satu ciri khas desainnya Bill Bensley seorang arsitek lanskap eksentrik yang terkenal karena gayanya yang nggak biasa, tapi susah dilupakan.

Jadi, buat kamu yang bergelut di dunia desain lanskap, arsitektur, atau bahkan sekadar pencinta ruang indah, ada banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari pria yang disebut-sebut sebagai “Willy Wonka-nya dunia hospitality” ini.

Yuk kita bahas santai, sambil ngebayangin kita lagi ngopi sore di teras resort tropis!

1.Cerita Dulu, Desain Kemudian

Bill Bensley selalu memulai desain dari sebuah cerita. Bukan sekadar bikin taman atau bangunan yang estetik, tapi semuanya harus punya soul. Bensley bukan tipe desainer yang langsung buka laptop dan gambar denah. Dia justru mulai dari pertanyaan yang lebih dalam: “Apa kisah yang ingin diceritakan tempat ini?”

Misalnya waktu dia bikin JW Marriott di Phu Quoc, Vietnam. Dia nggak bilang, “Ini hotel bintang lima.” Tapi dia ciptakan cerita: menciptakan konsep imajiner seolah-olah hotel itu adalah kampus dari universitas fiktif abad ke-19. Jadilah setiap ruangan terasa seperti bagian dari narasi besar. Bukan cuma tempat nginap, tapi pengalaman imajinatif. Setiap ruang punya karakter terkesan ada nuansa sejarah yang bikin tamu merasa sedang menjelajahi museum hidup

Buat kita sebagai arsitek lanskap, ini bisa diartikan: sebelum gambar-gambar layout, pikirkan dulu, apa kisah dari tempat ini? Apakah tentang budaya lokal? Tentang petualangan? Atau tentang nostalgia masa kecil?

Kita sebagai arsitek lanskap bisa belajar dari sini. Bahwa setiap ruang luar bisa punya cerita. Mau itu berupa bentuk taman, jalan setapak, atau gerbang masuk—semuanya bisa jadi bagian dari storytelling yang membuat desain kita lebih bermakna

2. Maximalism: Berani, Tapi Terarah

Bill Bensley nggak pelit warna. Dia pakai semuanya! Merah, biru, kuning, hijau—kadang semua dalam satu ruang. Tapi anehnya, tetap kerasa indah dan nyambung. Inilah yang disebut sebagai maximalism, yaitu gaya desain yang kaya warna, detail, dan elemen dekoratif.

Tapi ingat!, bukan berarti asal tabrak saja. Di tangan Bensley, semua warna, bentuk, dan ornamen itu punya tujuan. Mereka saling menguatkan cerita, bikin mata kita menari dari satu detail ke detail lain. Seperti baca buku cerita bergambar di setiap halaman punya kejutan baru, punya nuansa berbeda.

Maximalism ala Bensley tetap punya aturan main.  Elemen yang dipakai harus mendukung cerita, memperkuat suasana, dan bikin pengunjung terus ingin menjelajah. Misalnya:

·         Ubin berpola rumit yang memandu arah langkah.

·         Ukiran khas lokal yang memberi rasa tempat.

·         Kombinasi tekstur—dari rotan, batu, sampai kaca patri—yang menggoda mata untuk terus memandang.

Kalau kamu seorang desainer lanskap, bisa mulai dari menggunakan tanaman berwarna tajam, elemen hardscape unik, atau bahkan jalur masuk dengan framing dramatis. , bebatuan unik, jalur setapak zigzag, atau elemen air yang muncul tiba-tiba.

Alhasil Ruang akan jadi kaya rasa.  Intinya: bikin pengunjung merasa seperti masuk ke dunia rahasia.

3. Seni Lokal Bukan Sekadar Hiasan

Bill Bensley sangat mencintai budaya lokal. Dia sering berkolaborasi dengan pengrajin setempat untuk menghidupkan elemen-elemen desain. Patung batu, tekstil tenun, furniture kayu ukir—semuanya bukan hanya ornamen, tapi bagian dari cerita tempat itu sendiri.

Cara bensley memberdayakan seni lokal adalah caranya menghadirkan roh lokal. Bukan cuma tempel ornamen budaya, tapi benar-benar menggali dan menghidupkan warisan setempat lewat desain.

Nah, kita pun bisa meniru cara ini. Dalam desain lanskap, misalnya, kamu bisa menghadirkan relief lokal, plaza dengan pola batik, atau instalasi seni dari material alami yang menceritakan identitas tempat. pikirkan elemen lokal yang bisa diangkat dan selalu ingat bukan karena tren, tapi karena memang punya makna. Mungkin lewat motif batu, pola tanam, atau bentuk jalur yang terinspirasi dari budaya setempat.lekayaan ala, budaya Indonesia kaya akan hal seni lokal yang bisa di eksploitasi secara luxury.

4. Kejutan adalah Rasa Manis di Ujung Lidah

Salah satu trik jitu Bensley adalah menciptakan momen-momen kejutan. Tangga spiral yang tersembunyi, jembatan gantung di tengah hutan, atau koridor rahasia yang mengantar ke taman tersembunyi. Semua ini bikin pengalaman jadi tak terlupakan.

Dalam konteks lanskap, kamu bisa pakai prinsip ini dengan:

·         Pintu gerbang tak terduga

·         Tanaman rimbun yang membuka ke ruang terbuka

·         Suara air atau pencahayaan tersembunyi yang muncul tiba-tiba

Itu semua bukan kebetulan. Ia sengaja dirancang untuk menciptakan momen “wah”. Dalam lanskap, ini bisa diterjemahkan jadi pintu kecil yang menyambut taman luas, atau jalan setapak yang menyempit lalu melebar. Seperti menyajikan kisah, bab demi bab.

5. Desain yang Mengutamakan Keberlanjutan dan Keharmonisan Alam

Meskipun desain Bensley dikenal dengan elemen mewah dan kreatifnya, ia tetap memperhatikan keberlanjutan dan konservasi alam. Dalam banyak proyeknya, ia berfokus pada pengelolaan air yang efisien, pemilihan tanaman yang ramah lingkungan, menggunakan tanaman lokal yang dapat tumbuh dengan baik di lingkungan tersebut, dan penggunaan bahan-bahan lokal yang lebih ramah lingkungan.

Keberlanjutan adalah elemen penting dalam desain lanskap Bensley. Ia sering memilih untuk, meminimalkan dampak negatif terhadap ekosistem lokal, dan menjaga keseimbangan alam.

Bensley sangat peduli terhadap konservasi alam dan banyak karyanya bertujuan untuk meminimalkan jejak ekologis dari pembangunan.

Contoh Karya Bill Bensley:

1.St.regis Hotel, Bali,Indonesia

Resor ini dirancang dengan thema gung ke laut Dimana  perencnaan disain mencerminkan perjalanan dari gunug kelaut, area lobby dan tangga utama yang menjadi jalur utama tamu menggambarkan gunung

2.Capella Ubud, Bali, Indonesia:

Resor ini menampilkan lanskap yang terinspirasi dari budaya Bali dan alam tropis. Bensley menggunakan elemen seperti kolam renang alami, tanaman tropis, dan struktur yang terbuat dari bahan alami untuk menciptakan suasana yang harmonis dengan alam.

3.Shinta Mani Wild (Kamboja)

Sebuah proyek resor mewah yang berfokus pada keberlanjutan dan konservasi alam. Bensley menggabungkan desain lanskap yang menghormati alam sekitar, dengan penggunaan material lokal dan elemen-elemen alami, seperti air terjun dan jalur-jalur yang mengalir, untuk menciptakan pengalaman yang terhubung dengan alam. Hotel ini menampilkan lanskap yang memadukan elemen tradisional Thailand dengan desain modern. Bensley menggunakan tanaman tropis, kolam air, dan patung-patung untuk menciptakan suasana yang tenang dan elegan.

4.Four Seasons Tented Camp Golden Triangle (Thailand)

Di sini, Bensley merancang sebuah kamp yang terletak di dalam hutan, menggunakan elemen alam yang kaya tekstur untuk menciptakan atmosfer magis dan petualangan. Desainnya juga mengintegrasikan elemen-elemen budaya lokal dan menciptakan ruang yang sangat responsif terhadap ekosistem hutan.

5.Soneva Kiri (Koh Kood, Thailand)

Sebuah resor yang dirancang dengan penuh perhatian terhadap keberlanjutan dan hubungan dengan alam. Bensley menggunakan jalur-jalur tersembunyi dan elemen air untuk menciptakan pengalaman yang menggugah, sekaligus memberikan kenyamanan dan keindahan alam bagi para pengunjung.

6.The Siam (Bangkok, Thailand)

Sebuah hotel dengan desain lanskap yang menonjolkan elemen-elemen alami, seperti kolam-kolam yang tidak teratur dan jalur asimetris, untuk menciptakan suasana yang lebih organik dan mendalam, menyatu dengan lingkungan sekitar.

7.InterContinental Danang Sun Peninsula Resort, Vietnam:

Resor ini menampilkan lanskap yang dramatis dengan pemandangan laut dan bukit. Bensley menggunakan tanaman lokal, kolam renang infinity, dan jalan setapak yang berkelok-kelok untuk menciptakan pengalaman yang memukau.

8.Dan masih banyak lagi contoh contoh lain karya Bill bensley didunia

 

Kesimpulannya?

Desain ala Bill Bensley bukan soal “lebih bagus” atau “lebih megah”. Akan tetapi  soal berani  bermain, bercerita, dan berani tampil beda. Ia mengajarkan bahwa desain yang baik bukan cuma tentang bentuk, tapi tentang perasaan yang ditinggalkan setelah orang melaluinya.

Maximalism bukan berarti berantakan, tapi kaya rasa dan pengalaman. Jika kamu seorang arsitek lanskap, belajar dari Bensley bisa jadi suntikan energi baru buat proyek-proyek kamu.

Bayangkan desainmu bukan cuma “taman yang cantik”, tapi ruang yang penuh petualangan dan rasa ingin tahu. Dan seperti yang selalu ditunjukkan oleh karya-karyanya: dalam desain, lebih baik terlalu berani daripada terlalu biasa.

Jadi, siapa tahu proyek lanskap berikutnya nggak cuma sekadar cantik... tapi penuh rasa. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, kamu bikin orang berkata:
"Wah... ini kayak karya Bill Bensley!"

Kalau kamu punya proyek atau ide yang ingin dibawa ke level “Bensley-style”, mungkin sekarang saatnya. Cerita terbaik sering kali dimulai dari keberanian untuk jadi berbeda. Siapa tahu, ngopi sore berikutnya bukan di kafe, tapi di resort hasil desainmu sendiri

Label: , , , ,


Read more!
 
posted by smartlandscape at 12.23 | Permalink | 0 comments
Selasa, Mei 27, 2025
Mengukir Jiwa Bangsa di Bundaran HI: Sebuah Ode untuk Arsitektur Lanskap

 

Bayangkan sebuah kota yang bernapas, yang bercerita, yang hidup melalui ritme air, cahaya, dan budaya. Bayangkan Jakarta, jantung Indonesia, tempat jalanan berdetak, lampu berkedip, dan mimpi-mimpi bangsa lahir. Di tengahnya berdiri Bundaran HI, di mana Bundaran HI bukan sekadar persimpangan jalan raya , tapi panggung di mana ideologi, sejarah, dan kreativitas bersatu. Saya, seorang arsitek lanskap , berdiri di panggung itu, bukan untuk menata taman, tapi untuk mengukir jiwa bangsa melalui desain yang berani, penuh makna, dan abadi. Ini bukan cerita tentang keresahan , tapi tentang kebanggaan menjadi arsitek lanskap, tentang api kreativitas yang tak pernah padam, dan tentang tekad untuk menunjukkan bahwa ilmu kami adalah denyut nadi peradaban.

 

Menyulam Simfoni di Jantung Jakarta

Dua dekade lalu, saya dipercaya merancang ulang lanskap Bundaran HI kesempatan ini diberikan oleh Dinas Pertamanan DKI dan saya didukung oleh pihak sponsor swasta yaitu PT.Mitra Indra Buana, Kita mengetahui semua bahwa Landmark yang lahir dari visi Ir. Soekarno, sang arsitek Indonesia modern adalah sebuah Kawasan Bundaran HI dengan Tugu Selamat Datang, secara simbolik  kolamnya sebagai yoni dan tugu menjulang sebagai lingga identic dengan simbolik dari tugu Monumen nasional, Kawasan Bundaran HI adalah sambutan hangat bangsa kepada dunia. Ketika kesenpatan itu datang kepada saya sebagai Arsiotek Lanskap,saya ingin lebih, Saya ingin Bundaran HI bernyanyi, menari, dan berbicara bukan sekedar hanya menjadi sebuah Landmark kota yang kaku dalam skala monumentalnya saja, saya ingin air mancurnya menjadi puisi, lanskapnya menjadi manifesto, setiap sudutnya mencerminkan jiwa Indonesia. Saya ingin Indonesia melihat: arsitektur lanskap bukan bayang-bayang arsitektur bangunan, bukan sekadar “tukang taman”, akan tetapi kami adalah pencipta ruang, penutur budaya, pengukir identitas.


Maka, saya melahirkan konsep thema  “Gerak, Warna, Suara”,yang timbul karna analisa  patung selamat datang terkesan kaku statis, sedankan keberadaannya ada ditengah pusat dinamika kota Jakarta, thema “gerak,warna dan suara” itu di implementasikan lewat mengatur efek dan tata letak semburan menjadi  sebuah simfoni air mancur yang tak hanya memukau mata, tapi menggetarkan jiwa. Saya merancang formasi air mancur menjadi lima formasi yang menjadi penanda waktu bagi kota Jakarta disumbu jalan protocol MH.thamrin dan Sudiman Jakarta, sekaligus Lima Formasi air mancur yang masing-masing menyuarakan lima sila Pancasila, ideologi yang digali Soekarno untuk menyatukan bangsa., Ini bukan sekadar desain—ini adalah teriakan bahwa arsitektur lanskap bisa menangkap esensi Indonesia:

1.     Selamat Pagi Jakarta: Semburan Air mancur dengan efek Kabut embun yang lembut membelai kota dengan sinar mentari pagi bias menciptakn warna Pelangi, seakan menandakan ucapan Salam Selamat Pagi bagi penghuni kota  dan juga  melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Seperti doa pagi, formasi ini membawa kesejukan, mengingatkan bahwa iman adalah fondasi bangsa.

2.     Selamat Siang Jakarta: Dilambangkan dengan semprotan Jet air menjulang vertikal, penuh kuasa, mencerminkan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Ini adalah semangat kerja, keadilan, dan martabat manusia di puncak hari.

3.     Selamat Sore Jakarta: dilambangkan dengan Lengkungan air saling merangkul, diterangi kilau matahari senja kota yang memberikan efek bias pada titik air mancur warna keemasan,sebagai simbolik menyuarakan Persatuan Indonesia. Senja menjadi pelukan hangat yang menyatukan suku, agama, dan budaya.

4.     Selamat Malam Jakarta: Dilambangkan dengan efek Air mancur berbentuk jamur dalam formasi melingkar, bercahaya dengan uplighting, melambangkan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan. Ini adalah musyawarah malam, di mana kebijaksanaan menerangi demokrasi.

5.     Selamat ber-Hari Minggu Jakarta: dilambangkan dengan harmoni semua formasi, bergerak dengan tinggi-rendah saling mengisi, bersuara dan berwarna, merayakan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Hari libur menjadi pesta kebersamaan, cerminan cita-cita Pancasila.

Setiap semburan adalah sila, Setiap gerakan adalah cerita, Setiap kilau adalah Indonesia. Saya ingin Bundaran HI menjadi penanda waktu yang hidup dan bukan berpedoman hanya pada jam dinding kota yang kaku, tapi air mancur yang bernyanyi tentang ritme kehidupan Jakarta, dari embun pagi hingga gemerlap malam.

Menancapkan Budaya di Setiap Inci

Baca selengkapnya »

Label: , , , , ,


Read more!
 
posted by smartlandscape at 23.16 | Permalink | 0 comments
Sabtu, Mei 03, 2025
Scope Creep: Musuh Halus dalam Proyek yang Besar

 




“Dalam dunia desain arsitektur lanskap, scope creep adalah seperti akar liar di bawah taman taman formal: tidak terlihat, tapi bisa merusak struktur secara perlahan.”

Sebagai praktisi perencana dan perancang arsitektur lanskap selama lebih dari tiga dekade, saya sudah melihat berbagai bentuk perubahan dalam proyek: yang disepakati, yang disepakati setengah hati, dan yang tidak pernah disepakati tapi tetap kita kerjakan.

Di dunia kami yang setiap waktu bergelut dalam proses perencanaan dan perancangan masterplan, khususnya dalam arsitektur lanskap berskala besar seperti taman kota, kawasan resort, maupun pemulihan lahan pasca tambang, mahluk scope creep ini  bukanlah  sekadar istilah tetapi melainkan bahaya nyata yang sering menunggu kesempatan untuk masuk dalam setiap proses pelaksanaan kontrak konsultan.

Apa itu scope creep?
Secara sederhana, scope creep adalah meluasnya pekerjaan proyek di luar batas yang sudah disepakati dengan dan atau tanpa perjanjian biaya tambahan dan waktu yang jelas. Biasanya hal ini datang dari kalimat-kalimat  “cuma tambahin ini sedikit”, “boleh revisi satu kali lagi?”, atau “klien butuh visual tambahan untuk pitching minggu depan”.

Jadi sebaiknya anda selalu ingat dan cipta kondisi jika berhadapan dalam situasi;

                 🛑 Red Flag (Waspada Scope Creep Jika…)

  • Klien sering meminta “hal kecil” di luar kesepakatan awal.
  • Ada banyak diskusi informal tanpa catatan tertulis.
  • Tim internal mengerjakan revisi tanpa perintah atau persetujuan resmi.
  • Tidak ada waktu tambahan tapi pekerjaan makin melebar.
  • Budget tetap, tapi hasil kerja yang diminta bertambah.

Awalnya terdengar tidak berbahaya, tapi ketika “tambahan kecil” itu dikalikan 5 (lima) zona resort, ditambah 3 (tiga) stakeholder yang berbeda, lalu diminta sebelum minggu depan harus selesai dengan tanpa biaya tambahan, maka jangan menyesal jika anda sedang kehilangan kendali proyek.

Oleh karna itu dilakukan Tindakan evaluasi dampak sebelum menyetujui perubahan, dan jika ternyata  Anda tidak bisa mengukur dampaknya, perubahan dan permintaan tersebut jangan di lakukan.

“Kontrak yang ambigu tidak jelas adalah undangan terbuka bagi kesalahpahaman. Dan kesalah-pahaman adalah cara paling elegan scope creep menyelinap masuk.”

Kenapa Scope Creep Terjadi?

Baca selengkapnya »

Label: , , , , , ,


Read more!
 
posted by smartlandscape at 03.22 | Permalink | 0 comments
Kamis, Oktober 30, 2014
Billing Rate versi INKINDO 2013
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 02.08 | Permalink | 0 comments
Billing Rate versi kementerian PU
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 01.29 | Permalink | 0 comments
Senin, Desember 01, 2008
Formula FEE DESIGN konsultan Arsitek Lansekap



s
uatu proyek lansekap terkait erat dengan peran seorang arsitek lansekap yang profesional di bidangnya,hal ini dimulai dari mulai proses inventarisasi data hingga pengimplementasian hasil disain ke tapak.
Seorang arsitek lansekap yang telah berpengalaman dan menguasai bidang ini sangat menentukan nilai besaran fee yang harus di bayar oleh klien baik individual maupun perusahaan

Besaran tarif jasa seorang profesional arsitek lansekap di hitung berdasarkan formula perhitungan fee, untuk lebih memberikan informasi bagi klien tentang besaran nilai tersebut tidak ada salahnya di-era tranparasi ini formula perhitungan fee seorang arsitek lansekap dapat juga di ketahui oleh umum serta menjadi sarana informasi bagi para professional muda yang sedang bergelut dalam meningkatkan karier dan prestasi.
Sehingga klien maupun para arsitek lansekap muda dapat mengetahui cara penetapan formula harga jasa seorang arsitek lansekap

Formula cara perhitungan ini merupakan metoda dari hasil pengalaman kerja selama 15 tahun berpraktisi di dunia arsitektur lansekap dan telah saya coba terapkan untuk klien proyek ,baik klien dari dalam negeri maupun dari luar negeri.



5 (lima) faktor yang harus diperhatikan dan menjadi menjadi pertimbangan dalam menentukan besar fee jasa yang akan dikenakan kepada klien baik secara individual maupun perusahaan ada yaitu:

1. Tingkat kesulitan proyek ( level of difficulty)
Dengan memprediksi terlebih dahulu luasan area/ tapak serta status proyek yang akan masuk kedalam proses perencanaan serta kedudukan seorang arsitek lansekap dalam proyek tersebut.
Dalam klasifikasi tersebut akan dapat diberikan koefisien bilangan tingkat kesulitan

Kategori Group 1 : Kompleksitas Tinggi ( Kepala koordinator konsultan)
                                      ( Nilai koefisien 1.2)
Kategori Group 2 : Kompleksitas Sedang (Area materi buatan lebih luas daripada
                                       material alami)
                                       ( Nilai Koefisien 1.1)
Kategori Group 3 : Kompleksitas Rendah (Area material alami lebih luas daripada
                                       area material buatan/pabrikasi)
                                      (Nilai koefisien  1)
Kategori Group 4 : Renovasi / Perbaikan
                                      ( Nilai koefisien 0.8)

2.Jenis Pelayanan arsitektur lansekap yang diinginkan ( Basic Services)
Pelayanan jasa seorang arsitek lansekap dapat di jabarkan sebagai berikut:


Kategori 1 : a.konsultan dan advisor services
                        b.Jasa layanan khusus
                       c.Pelayanan jasa lainnya
Kategori 2 : Konsep perencanaan
Kategori 3 : Layanan gambar pembangunan lansekap ( Landscape Design Development
                         Atau LDP )
Kategori 4 :Gambar kerja ( working drawing) dan spesifikasi untuk tender dan
                        pelaksanaan konstruksi
Kategori 5 :Evaluasi hasil tender ( hardscape works,softscape work)
Kategori 6 :Administarsi Kontrak Dan supervise tapak
Kategori 7 :Pelayanan Tambahan

Atau dibagi berdasarkan paket pelayanan seperti sbb:

On Completion of
 Conceptual Design Stage ( 15% )

On completion of
 Design Development Stage ( 30% )

On completion of
 Working drawings ( 20% )

On completion of
 Technical Specification and tender Documentation stage ( 15% )

On completion of
 Management Implementation management stage
 (Based on ‘ periodic inspection’level of service) ( 20%)

3.Type Of Project
Dalam tahap ini adalah mengetahui sasaran dari 'goal'proyek sehingga dapat memasukan kedalam klasifikasi tipe proyek, masing-masing perusahaan konsultan dan konsultan individual biasanya mempunyai klasifikasi yang berbeda sesuai dengan bidang keahlian spesifik yang mereka kuasai.

Untuk hal ini kita dapat melihat contoh yang telah dikeluarkan oleh ILAM (organisasi profesi arsitek lansekap di Malaysia)
Seperti dibawah ini :

Kategori 1 ( co-efficient 1.2)
Landscape Of exceptional character and complexity:
( Private / residential Garden), Hotels,Theme parks,Resort,Golf courses,Marina/waterfronts,Civic centre ( Art galleries, museum,theatres),Zoological garden,Botanical garden, Port/harbours/maritims terminal,Interior landscape/Rooftop garden,Monumen compounds/Monuments,Palaces)


Kategori 2 ( co-efficients 1.1)
Landscape of average complexity, requiring a moderate degree of design and detailing
( Commercial complexes,Landscape upgrading,Township development,Camping/recreational grounds,Religious institutions,Educational institutions,Sport complexes,Land reclamations, club house, airports,hospitals )


Kategori 3 ( co-efficient 1.0)
Highway / Roadside planting, Industrial/factories. Cemeteries,Re-forestation,Petrol station

4.Waktu ( Time of Schedule)
Setelah mengetahui bobot dari ke 3 (tiga) faktor tersebut maka kita akan bisa mengetahui secara rinci umur dari proyek tersebut dan lamanya waktu yang terpakai dalam proses perencanaan maupun pelaksanaan proyek tersebut

Untuk penentuan biaya rata-rata untuk waktu seorang arsitek lansekap ini relatif sesuai dengan lamanya berpraktisi di bidang arsitektur lansekap maupun keahlian-keahlian khusus yang mereka miliki.dan biasanya organisasi profesi seperti ILAI ( Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia) telah membuat daftar rinci harga waktu seorang professional arsitek lansekap.
Akan tetapi dapat juga masing-masing konsultan menghitung biaya tariff per jam untuk konsultan individu maupun perusahaan konsultan.
Untuk perhitungan jasa konsultan individu akan saya jelaskan dalam artikel yang lainnya.

5.Biaya Operasional ( overhead cost)
Merupakan biaya pengeluaran yang akan terkait maupun keluar dalam pekerjaan proyek
Seperti Biaya tenaga asisten ( supporting staff), Biaya transporatsi lokal, biaya akomodasi (jika proyek diluar kota) ,Biaya percetakan gambar, Biaya presentasi Dll


Formula perhitungan fee

Fd= ( G X ( R X T) X P ) + BO

Dimana ;

Fd = Fee design
G = Kategori tingkat kesulitan
P = Tipe Proyek
R = Rate rata-rata perjam
T = Time ( jangka waktu yang diperlukan)
BO = Biaya operasional ( Overhead proyek )


Contoh:
Diketahui sebuah projek perencanaan lansekap Hotel resort, dimana pekerjaan hardscape lebih banyak daripada softscape dan jenis pelayanan yang diinginkan adalah hanya sampai Design Development Phase.
Maka dari pekerjaan tersebut akan didapatkan perincian time schedule selama 21 hari kerja yang berarti 28 x 6 jam = 126 jam
Serta diketahui harga perjam jasa seorang arsitek lansekap yang berpengalaman 3-5 tahun sebesar Rp 185.000,-

Maka biaya yang akan di kenakan adalah

1.1 x ( 126 jam x 185.000) x 1.2 = Rp 30.769.200.- + Biaya Operasional


Kemudian untuk dijadikan harga penawaran maka harga tersebut ditambah kan dengan biaya operasional ( BO) yang total jumlah biaya sangat tergantung dengan letak proyek tersebut ( didalam / diluar kota)  maupun hasil keluaran yang diinginkan oleh klien, yang biasanya tidak dapat dirumuskan dalam satuan yang tetap.
Klien kadang hanya meminta presentasi dalam bentuk hasil hardcopy akan tetapi ada klien yang meminta presentasi dalam bentuk animasi, maka biaya operasional akan berbeda pada masing-masing proyek tersebut.




Label:


Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 01.45 | Permalink | 7 comments
Kamis, November 27, 2008
Fee Jasa konsultasi Arsitek Lansekap


J

asa konsultasi dalam bidang arsitektur lansekap merupakan Layanan keahlian/professional yang hasil keluarannya berbentuk rekomendasi, nasehat, hasil survey,disain ataupun dukungan manajerial seperti pengawasan dll.
Dan tentunya jasa ini tidak lepas dari BERAPA ? dan BAGAIMANA? cara tarif yang akan dikenakan jika menggunakan pelayanan jasa konsultasi seorang arsitek lansekap

Ada 4 (empat ) metoda perhitungan tarif pelayanan (fee design) yang sering digunakan dalam ruang lingkup jasa pelayanan konsultasi arsitek lansekap

1.Tarif Berdasarkan Persentase ( Percentage fee)
2.Tarif Berdasarkan waktu ( Time charge)
3.Tarif tetap/Borongan ( Lumpsum Fee)
4.Tarif Upah. (Retainer )




Percentage Fee
Adalah cara pengaturan biaya/nilai tarif dengan menetapkan nilai besaran fee persentase dikalikan dengan jumlah total biaya pelaksanaan pekerjaan konstruksi lansekap.
Di Indonesia pada umumnya jasa seorang arsitek lansekap berkisar dari 7.5% hingga 10% dari Jumlah Rencana Anggaran Biaya (RAB) besar atau kecilnya nilai fee persentase biasanya ditentukan oleh total biaya pelaksanaan konstruksi pekerjaan lansekap serta tingkat kesulitan daripada proyek lansekap.


Contoh: Jika sebuah Pekerjaan arsitektur lansekap mencapai nilai proyek sebesar Rp 50 Juta maka nilai jasanya adalah 10% X Rp 500.000.000 = Rp 50.000.000 Jika pekerjaan arsitek lansekap mencapai nilai proyek Rp 1 Milyar maka nilai jasanya adalah 7.5% X Rp 1M = Rp 75.000.000.

Beberapa studi banding dengan nilai fee arsitek lansekap di beberapa negara tentangga. Institute Arkitek Landskap Malaysia (ILAM) dalam buku pedomannya menetapkan besaran fee persentase jasa pelayanan berkisar 8% - 14%,
Australian Institute of Landscape Architects (AILA) menerapkan nilai berkisar dari 6% - 18%. Sedangkan
Singapore Institute Of Landscape Architects (SILA) menerapkan besaran nilai 10 % dari semua pengeluaran yang terkait dengan proyek seperti Biaya transportasi ,biaya perjalanan,biaya akomodasi maupun konsumsi,printing dan reproduksi hasil disain,pengiriman ,alat dll.

Keuntungan dan kerugian menghitung besaran tarif berdasarkan metoda ini adalah nilai besaran fee akan tergantung dan terpengaruh dari nilai biaya pelaksanaan,besarnya biaya pelaksanaan akan mengangkat nilai harga jasa pelayanan demikian pula sebaliknya.

Time Charge
Metoda ini adalah cara pengaturan besaran tarif jasa pelayanan dengan menentukan lamanya waktu pekerjaan dikalikan dengan harga satuan tarif/jam seorang arsitek lansekap.
Metoda inipun akan digunakan jika jenis proyek belum diketahui besaran nilai konstruksinya ataupun jenis pekerjaan yang tidak atau belum tentu berakhir dengan pelaksanaan konstruksi ( hanya bersifat rekomendasi maupun nasehat ahli)

Besar-kecilnya tarif/jam ini ditentukan oleh PENGALAMAN atau ‘ jam terbang’ keahlian seorang arsitek lansekap,semakin berpengalaman dalam menangani proyek maka makin tingginya nilai tarif si arsitek tersebut.Penentuan tarif/jam juga kadang telah ditentukan oleh organisasi profesi terkait atau nilai yang telah ditetapkan sendiri oleh individu arsitek lansekap tersebut berdasarkan pengalaman ber-praktisi

Lumpsum Fee
Tarif lumpsum (Fixed Fee) biasa di gunakan oleh karena kesepakatan oleh kedua belah pihak antara pemberi kerja dan penerima kerja,parameter besaran tarif lumpsum yang digunakan ditentukan oleh waktu, luasan proyek dan biaya serta tingkat kesulitan proyek

Keuntungan dari metoda ini adalah di sepakati tarif tetap (fixed fee) sehingga tidak terpengaruh oleh besaran dari nilai biaya pelaksanaan.
Kerugian dari metoda ini adalah jika lamanya waktu pekerjaan meleset dari jadwal yang telah ditetapkan ataupun kendala-kendala teknik yang terjadi dilapangan sehingga membuat waktu pelaksanaan menjadi mundur akan berakibat kerugian waktu bagi pihak konsutan arsitek lansekap.

Retainer fee
Adalah cara pengaturan tarif yang berdasarkan kesepakatan antara klien dan pihak arsitek lansekap jika klien hanya membutuhkan jasa pelayanan seorang arsitek lansekap pada sebuah bagian pekerjaan proyek dalam jangka waktu tertentu.Tetapi bukan tidak mungkin kesepakatan ini akan berlangsung selama hitungan bulan,semester atau tahunan.

Metoda ini paling sering digunakan oleh perusahaan konsultan dan kontraktor lansekap di Indonesia jika mendapatkan proyek yang membutuhkan keahlian khusus daripada jasa pelayanan seorang arsitek lansekap dalam jangka waktu tertentu.

Ke 4 (empat) metoda cara penetapan tariff layanan seorang arsitek lansekap selalu dilakukan dengan menambahkan biaya pengeluaran bagi kebutuhan arsitek lansekap dalam proyek tersebut seperti biaya tranportasi lokal,biaya konsumsi dan biaya alat dan percetakan hasil dll.

Label:


Read more!
 
posted by JOHN F.PAPILAYA at 11.36 | Permalink | 0 comments